Cek & Ricek – Indonesia's Entertainment Leading

Garin Nugroho Dan Christine Hakim Akan Garap Film H O S Tjokroaminoto

Semasa kanak-kanak, Tjokroaminoto sudah menunjukkan sikap kritis. Sikap kritis ini ditunjukkan Tjokroaminoto saat duduk di bangku sekolah Belanda, pada zaman kolonial Hindia Belanda. Tjokroaminoto sering dihukum oleh gurunya karena menjahili para siswa Belanda.

Meski demikian, Tjokroaminoto selalu mengingat pesan gurunya. Kata ‘hijrah’ yang pertama kali disebut sang guru selalu ada dalam pikirannya. Saat itu, gurunya berpesan kepada Tjokroaminoto untuk selalu mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.

“Hijrah dari tempat buruk ke tempat lebih baik. Jadi lah seperti sumbu api ini membuat umat menjadi terang. Yang kedua, iqra atau bacalah,” pesan gurunya kepada Tjokro, dalam salah satu adegan film ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’.

Hijrah pertama dilakukan Tjokroaminoto saat menuju Kota Semarang pada tahun 1905 silam. Pria kelahiran Ponorogo ini hijrah menuju Semarang lantaran dipecat dari pekerjaannya di perkebunan karet milik pengusaha Hindia Belanda, Mr Haendlift.

Saat itu, Tjokroaminoto dinilai kurang ajar karena menuangkan teh panas ke dalam cangkir hingga penuh. Hal itu dikarenakan Tjokroaminoto kesal kepada Haendlift yang menganggap rendah orang-orang pribumi.

Di Semarang, Tjokroaminoto melihat orang-orang pribumi menjadi budak para pejabat Hindia Belanda. Tak puas dengan kehidupannya di Semarang, Tjokroaminoto pun kembali berhijrah. Hijrah berikutnya terjadi pada tahun 1906 ke Surabaya.

Hijrah menuju Surabaya dilakukan Tjokroaminoto atas saran dari salah satu teman kerjanya di Semarang. Surabaya disebut-sebut sebagai kota yang pantas untuk Tjokroaminoto. “Perjuangan tanpa kekerasan,” kata temannya kepada Tjokroaminoto.

Leave a Comment