Selasa, 14 May 2013 10:10

Jakarta, C&R Digital - Dian Piesesha sedang berjuang melawan kanker yang menyerang beberapa organ tubuhnya. Penyanyi yang melejit lewat single pop “Tak Ingin Sendiri” ini baru saja usai menjalankan operasi pengangkatan sel kanker payudara di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (10/5). Ini bukan penyakit kanker pertama yang diderita Dian. Sebelumnya, ibu dua anak ini sempat menderita kanker kelenjar getah bening. Dan, dokter di negeri Jiran juga mendiagnosis ada jaringan sel kanker bersarang di ovarium. Bagaimana Dian menghadapi cobaan penyakit ini?

Penyanyi bersuara sendu yang ngetop di tahun 1980-an dan 1990-an, Dian Piesesha, menjalani operasi kanker payudara, Jumat (10/5) pagi. Tim dokter di Prince Court Medical Center, Kuala Lumpur, Malaysia, berhasil mengangkat jaringan sel kanker berukuran 6,5 x 5 sentimeter di payudara dekat ketiak kiri Dian, dan jaringan sel kanker berukuran 6 x 2,5 sentimeter di payudara dekat ketiak yang lain.

Berita tentang sakit Dian ini didapat dari seorang kawan, Jose Choa Linge, yang dikenal sebagai pengusaha event organizer. Jose adalah penyelenggara konser tunggal Dian, di Hotel Kartika Candra, Jakarta Selatan, 15 Maret 2013. “Saya salut pada Dian. Dia tabah,” tandas Jose saat dihubungi, Sabtu (11/5) sore.

Pernyataan Jose bukan omong kosong. Lewat BlackBerry Messengers, Dian masih sempat berkirim kabar kepada kerabat usai operasi, Sabtu sore lalu. “Ass, W.W, teman-teman yang terkasih, terima kasih doanya yang disampaikan buat saya. Alhamdulillah operasi berjalan lancar dan saya diberikan kekuatan. Semua berkat doa saudara-saudaraku, teman-temanku. Terima kasih saya sampaikan semoga Allah membalas segala kebaikannya. Amiin YRA. Dian P”.

Pasca-operasi, Dian memang harus menjalani pemulihan di ruang perawatan rumah sakit selama dua hari. Untunglah, dokter tidak mengangkat payudara Dian. “Sel kankernya masih berada di ketiak dekat payudara. Alhamdulillah belum menyebar ke seluruh payudara,” tandas Aliyah, adik kandung Dian, lewat sambungan telepon, Senin (13/5) sore.

Meski demikian, Dian masih harus tinggal di Kuala Lumpur untuk beberapa waktu. “Hari Senin ini Mami Dian memang sudah diperbolehkan dokter rumah sakit untuk pulang. Tetapi, kami menemani Mami Dian di rumahnya di Kuala Lumpur agar lebih mudah mengontrol ke rumah sakit. Jadi, belum akan pulang ke Jakarta dalam waktu dekat,” papar Aliyah yang menemani Dian menjalani operasi.

  

Merangkak

Dian sudah tak asing dengan rumah sakit elit yang terletak di wilayah persekutuan Ibu Kota Malaysia itu. Tahun 2011, pemilik nama lengkap Diah Daniar ini sempat menjalani operasi pengangkatan sel kanker kelenjar getah bening di lehernya, di rumah sakit yang sama. Tentu, ditangani dengan tim dokter berbeda.

Selang setahun setelah menjalani operasi pengangkatan sel kanker kelenjar getah bening di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, Dian Piesesha menderita kelumpuhan selama enam bulan. “Selama itu pula, Dian harus merangkak setiap ingin mencapai tempat yang ditujunya. Dia enggak bisa jalan,” ungkap Jose Choa Linge.

Di mata Jose, Dian berusaha selalu kuat di hadapan keluarga dan teman-temannya. “Dian benar-benar perempuan tegar. Dia menerima penyakitnya dengan rasa syukur dan tidak menganggap penyakit yang dideritanya sebagai cobaan dari Allah,” lanjut Jose.

Sebenarnya, tahun 1984, Dian sudah sempat menjalani operasi kelenjar getah bening di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Itu bersamaan dengan saat persiapan single “Tak Ingin Sendiri”, yang melambungkan namanya di jagat musik Tanah Air.

Dian Piesesha sendiri mengakui tentang penyakit kanker yang dideritanya ini.  “Tahun 2011 saya memang pernah lumpuh akibat kanker. Tetapi alhamdulillah saya masih bisa bangkit dan berkarya lagi,” tutur Dian saat jumpa pers persiapan konser tunggalnya di Tee Box, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/3) lalu.

Perjuangan Dian Piesesha melawan kanker belum selesai. Dari hasil diagnosis dokter Prince Court Medical Centre, masih ada sel kanker yang bersarang di ovarium Dian. “Atau yang dalam bahasa medis disebut CA-125. Kata dokter harus diangkat lewat operasi,” jelas Aliyah. Dokter belum menjadwalkan kapan operasi kanker di alat reproduksi itu dilakukan. Karena Dian harus memulihkan kondisi dulu pasca-operasi kanker payudaranya.

Apapun, perjuangan Dian melawan kanker yang menyerang organ tubuhnya, mengingatkan kita pada cobaan yang sama yang dihadapi oleh sejumlah artis. Beberapa di antaranya berhasil melawannya, serta hidup sehat sampai saat ini dan terus  berkarya. Sebut saja artis serba bisa Titiek Puspa yang terkena kanker rahim, tahun 2010. Atau aktris legendaris Rima Melati yang selamat menjalani operasi kanker payudaranya, lebih dari dua dekade silam.  

 

--o-0 Boks 0-o--

 

Nenny Triana (Sahabat Artis) : Semoga Allah Sembuhkan Penyakitnya

Dian Piesesha orangnya tegar dan kuat. Dia jarang berkeluh kesah soal penyakit yang dideritanya. Padahal, kami sering berkomunikasi. Saat menelepon Dian sekitar dua minggu lalu, dia mengaku sedang berada di Malang, Jawa Timur. Eh, tak lama setelah itu saya dapat kabar ia sudah berada di Kuala Lumpur untuk operasi penyakit kankernya.

Dulu banget dia memang pernah cerita kalau ada benjolan di payudaranya. Tetapi dia meyakinkan kepada saya kalau itu bisa ditangani. Sepertinya dia mendalami semacam pengobatan mandiri. Maksudnya bagaimana mengoptimalkan potensi tubuh untuk melawan penyakit yang bersarang di tubuh kita.

Tetapi yang namanya penyakit mungkin terus menyerang, dan ketika pertahanan tubuh tak bisa melawan, si penyakit ini makin besar. Dan inilah yang coba dilakukan Dian dengan berobat ke Malaysia.

Sebagai sahabat, saya berdoa untuk kesembuhan Dian. Apa pun dan bagaimanapun penyakit itu, saya berdoa semoga Allah mengangkatnya dari tubuh Dian. Semoga dia diberi kekuatan untuk melawan penyakit itu.

Starina, komunitas artis-artis lawas yang saya dirikan belum ada rencana melakukan charity nite dan penggalangan dana untuk Dian. Soalnya untuk event seperti ini harus ada izin dari yang bersangkutan atau keluarga dekatnya. Karena tidak semua orang berkenan persoalan pribadinya terungkap. Bisa jadi karena Dian masih bisa menangani soal pembiayaan pengobatan. (Edy)

 

Rima Melati (Aktris Mantan Penderita Kanker Payudara) : Dukungan Keluarga Dibutuhkan

Saya kaget mendengar kabar Dian Piesesha berobat ke Kuala Lumppur untuk penyakit kanker payudaranya. Ini bukan penyakit main-main karena saya pernah mengalaminya lebih dari 20 tahun lalu. Puji Tuhan saya bisa sembuh dan melewati masa kritis karena dukungan keluarga dekat dan para sahabat.

Inilah yang dibutuhkan Dian selain tentu pembiayaan pengobatan yang terbaik. Saya punya suami Frans Tumbuan yang menemani 24 jam penuh saat saya berobat ke Belanda. Anak-anak yang masih kecil-kecil waktu itu juga mendukung penuh.

Waktu saya berobat yang terbayang adalah saya berusaha pasrah. Saya minta maaf pada Tuhan apakah saya pernah menyakiti Tuhan sehingga diberi penyakit ini. Saya selalu meminta pada Tuhan untuk diberi kesembuhan dan kesempatan hidup lebih lama karena saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.

Saya tidak tahu bagaimana Dian bisa mendapatkan penyakit tersebut. Tetapi, setelah saya sembuh dan pernah menjalani pengobatan mulai dari kemoterapi dan disinar, saya mendapatkan pengetahuan, sel kanker dalam tubuh kita bisa menjadi ganas karena faktor life style.

Tinggalkan merokok dan hindari asap rokok atau  menjadi perokok pasif. Perempuan hati-hati juga dalam menjaga makanan. Tidak usah terlalu sering menyantap daging merah apalagi yang dimasak setengah matang. Saya setelah sembuh, sudah 25 tahun tidak menyentuh makanan daging merah. Saya juga kasih tips ya jangan senang terpapar sinar matahari. Kecuali sinar matahari pagi sebelum jam 9.

*Tabloid C&R Edisi 768

Selasa, 14 May 2013 10:04

Jakarta, C&R Digital - Bermodal kantong tebal, Ahmad Fathonah menyawer perempuan-perempuan cantik dengan berbagai hadiah mahal. Meski hadiah-hadiah itu kini disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ada kemungkinan para penerimanya bakal terjerat Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Bagaimana bisa?

Tidak salah mungkin orang tuanya memberi nama Ahmad Fathonah. Dalam bahasa Arab, fathonah berarti cerdas. Ironisnya, fathonah disebut sebagai salah satu sifat Rasulullah. Tetapi, “kecerdasan” Fathonah dipakai untuk hal tak terpuji.

Teman dekat mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Lutfi Hasan Ishaaq ini, kenyataannya memang sukses meyakinkan sejumlah perempuan cantik agar menjadi “koleksinya”. Tidak tanggung-tanggung, berbagai jurus dilakukan untuk menaklukkan mereka. Maharani Suciono, Vitalia Sesha, Tri Kurnia Puspita hingga Novia Ardhana disebut-sebut pernah menjalin hubungan dekat dengan Fathonah.

Sejauh ini, perempuan yang mengaku sebagai istri resminya baru Sefti Sanustika. Rumah tangga Fathonah sendiri masih diliputi misteri. Ada yang menyebut ia beristri lima. Namun Sefti mengaku, saat menikahi dirinya, Fathonah sudah menduda dan  telah melepas dua istri sebelumnya.

Nama Dewi Kirana yang muncul belakangan dan dijadwalkan diperiksa KPK, menurut Sefti, adalah mantan istri kedua Fathonah. Sementara yang lain, Sefti baru tahu setelah suaminya dicokok KPK. ”Saya enggak tahu perempuan-perempuan itu sebagai apa,” kata Sefti.

 

Menggiurkan

Tentu hanya Fathonah yang tahu, sejauh mana hubungannya dengan perempuan-perempuan cantik yang sudah diberi hadiah wah itu. Vitalia Sesha misalnya. Model majalah pria dewasa yang juga janda dua anak ini bahkan hanya beberapa minggu usai bertemu pertama kali langsung diganjar Honda Jazz dengan nopol B 15 VTA seharga Rp 200-250 juta oleh Fathonah.

Belum lagi jam tangan mewah merk Chopard seharga Rp 70 juta yang menghiasi lengan kiri Vitalia. Saban bertemu anak-anak Vitalia, Fathonah memberi uang jajan sebesar Rp 3 juta. Vitalia mengakui tiga kali diajak nikah siri oleh Fathonah. Tetapi ia enggan menanggapi ajakan itu karena tidak cinta. “Hubungannya ya sebatas teman saja,” tegas Vitalia.

Jika Vitalia mau muncul ke permukaan, Tri Kurnia Puspita hingga kini masih menutup diri. Penyanyi dangdut yang juga pemain sinetron dan pernah masuk nominasi Piala Vidia lewat sinetron Mentari Pagi ini dihadiahi barang-barang bernilai menggiurkan.  Tri yang memakai nama populer Nia Kurnia itu menerima mobil Honda Freed, gelang Hermes seharga Rp 50-70 juta, serta jam tangan Rolex seharga di atas Rp 10 juta.

Hal yang mengejutkan adalah terseretnya artis Ayu Azhari dalam pusaran kasus Fathonah. Awalnya, Ayu tidak mengaku menerima hadiah. Belakangan KPK melansir fakta, Ayu telah mengembalikan uang Rp 20 juta dan 1.800 dolar Amerika yang diterimanya dari Fathonah ke KPK. Uang itu, menurut Ayu, untuk panjar karena ia diminta terlibat dalam acara-acara PKS. Kapan acaranya, hingga kini Ayu tidak tahu kenapa rencana menggunakan jasanya tidak kunjung terwujud.

Walau masih teka-teki, pengacara Vitalia Sesha, Farhat Abbas mengklaim Fathonah juga pernah memberi mobil Honda Jazz pada Novia Ardhana, artis sinetron dan presenter yang kini tak aktif lagi di dunia hiburan. Namun tudingan Farhat ini dibantah Novia lewat pengacara Henry Yosodiningrat. Pihak KPK sendiri belum memastikan, apakah Novia Ardhana masuk dalam daftar tunggu yang bakal dipanggil sebagai saksi kasus Fathonah atau tidak.

 

Bandel

Jika melihat profil Fathonah, sepak terjang yang dilakukannya bukanlah perkara besar. Lihat saja beragam mobil mewah dan rumah mahal yang telah disita KPK, usai Fathonah ditetapkan sebagai tersangka. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Muhammad Yusuf menyebut, selama tahun 2009-2013, aliran dana di rekening Ustaz Fathonah mencapai 23-30 miliar.

Tak heran, untuk sekadar “berkenalan” dengan Maharani Suciono pada 29 Januari lalu, Fathonah menabur uang sejumlah Rp 10 juta pada mahasiswi salah satu universitas swasta di Jakarta itu. Celakanya, saat itulah Fathonah tertangkap tangan oleh KPK di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat.

Perempuan-perempuan cantik itu memang membantah mereka terkait dengan kasus suap kuota impor daging sapi yang ditimpakan pada Fathonah. Namun, menurut Yenti Garnasih, pakar Hukum Pidana Pencucian Uang dari Universitas Trisakti, Jakarta, jika KPK punya bukti kuat, mereka bisa dijerat Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Ini artinya, selain penyitaan yang sudah dilakukan KPK, eskalasi kasus ini akan ditentukan sejauh mana hasil pendalaman yang telah dan akan dilakukan KPK. Apakah benar perempuan-perempuan itu tidak terlibat atau sebaliknya.

Sosok Fathonah menjadi semacam ironi jika melihat latar belakang keluarganya. Saking malunya, Zulkifli Fadeli Luran, kakak Fathonah bahkan meminta sepak terjang adiknya jangan dikait-kaitkan dengan yayasan milik orang tuanya. Maklumlah, Kyai Fadeli Luran, ayah Fathonah, adalah kiai karismatik, di Sulawesi Selatan.

Fathonah yang biasa dipanggil Olong bahkan sempat belajar di Pesantren Ikatan Masjid Mushala Indonesia Muttahidah (IMMIM) Putra Makassar milik orang tuanya. Tetapi, pria berusia 50 tahun ini, waktu kecil dikenal bandel. Ada kabar, Fathonah sempat dipindahkan ke Pondok Pesantren Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Namun, di Gontor pun Fathonah tetap ditolak.

Hanya karena menghormati Kyai Fadeli Luran, Fathonah dibiarkan tinggal. Di Gontor, ia berkenalan dengan Lutfi Hasan Ishaaq. Fathonah kemudian hijrah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Lembaga Ilmu Pendidikan Islam dan Arab (LIPIA). Bersama Lutfi, keduanya melanjutkan pendidikan ke Arab Saudi.

Hubungan mereka semakin dekat saat Lutfi diangkat sebagai Presiden PKS. Namun Sefti Sanustika meyakinkan, suaminya bukanlah kader PKS. Sementara mantan sopirnya, Sahrudin, tak tahu apa pekerjaan Fathonah. Saban hari, kata Sahrudin, bos-nya itu kerjanya keliling Jakarta. Keluar masuk hotel dan mal besar. Tidak ada kantor layaknya seorang pengusaha.

Godaan perempuan bukanlah pertama kali menimpa politisi atau orang dekat politisi, seperti yang terjadi pada Fathonah. Al Amin Nur Nasution (PPP), Max Moein (PDI P) hingga Yahya Zaeni (Golkar) beberapa contoh yang sempat mengalaminya. Kasus Fathonah menjadi catatan tersendiri karena cukup banyak perempuan yang ditaklukkannya.

Inilah yang membuat para petinggi PKS “pusing” karena menganggap ada upaya penggiringan opini bahwa orang-orang PKS suka perempuan cantik. Padahal, bersalaman saja mereka tidak mau. Jadi?

 

--o-0 Boks 0-o--

 

DR. Yenti Garnasih (Pakar Hukum Pidana Pencucian Uang) : Mereka Bisa Kena TPPU

Semua yang diduga ada kaitannya dengan aliran dana dari Fathonah berarti ada indikasi terjerat TPPU. Ini termasuk pada para artis itu. Namun langkah awal yang perlu dilakukan, semua yang diduga atau ada bukti yang kuat menerima aliran dana hasil korupsi harus diperiksa baik sebagai saksi untuk Fathonah maupun saksi mereka sendiri. Setelah itu, segala pemberian yang sudah mereka terima harus disita.

Saya kira KPK sudah tepat menyita barang-barang dari tangan mereka yang sudah diberi hadiah. Termasuk harus diapresiasi Ayu Azhari yang menyerahkan uang dari Fathonah. Bagaimana jika mereka mengaku tidak tahu pemberian itu dari uang hasil korupsi? Nanti akan diselidiki apakah pemberian itu wajar atau tidak.

Selain itu, pemberian itu dalam rangka apa? Kalau disebut hadiah, normal tidak? Jika seseorang diberi hadiah ratusan juta berupa mobil. Mestinya mereka harus berpikir uang itu patut diduga dari hasil korupsi. Yang jelas, jika KPK punya bukti kuat, tidak ada alasan mereka tidak tahu. Karena tidak tahu bukan berarti lolos dari Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang atau TPPU.

Sama juga misalnya ketika hadiah itu diberikan jauh hari sebelum tersangka ditangkap KPK. Nanti akan dilihat profil dan gaya hidup yang memberi, jumlahnya dan alasan memberi. Dari situ bisa disimpulkan, apakah mereka bisa dijerat TPPU. Karena semua bisa saja mengaku tidak tahu atau tidak menduga barang yang diterima dibeli dari hasil kejahatan korupsi.

*Tabloid C&R Edisi 768

Selasa, 16 April 2013 12:02

Jakarta, C&R Digital - Atmosfer panas terasa usai sidang perceraian Venna Melinda-Ivan Fadilla, Senin (15/4). Sidang yang mengagendakan replik atau tanggapan dari pihak penggugat itu memunculkan konflik baru tentang harta gono gini. Venna berang ketika mengetahui Ivan mengajukan sita harta bersama. Lantas, apa hubungannya kemarahan Venna dengan perjanjian pra nikah?

Setelah dua kali absen mengadiri sidang perceraiannya pada Senin, 1 April dan 8 April lalu, Venna Melinda akhirnya datang pada sidang keempat, Senin (15/4) di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan.  Usai menjalani sidang yang mengagendakan replik atau tanggapan dari pihak penggugat (Venna), ada drama menarik di luar ruang sidang.

Venna tampak berang tatkala mendengar komentar kubu Ivan yang sedang diwawancarai awak media. Venna yang berdiri tak jauh dari Ivan dan salah satu pengacaranya, Apollo S.H, mendengar pernyataan kubu Ivan  soal harta goni gini pasangan ini.

Tersinggung, Venna pun berlalu meninggalkan PA Jakarta Selatan dengan mata berkaca-kaca. Sambil berjalan, ia  sempat mengatakan sesuatu pada pengacaranya, Kemala Dewi Mirza, S.H. “Saya enggak mau naik mobil itu,” tutur Venna seperti yang didengar oleh sejumlah wartawan yang mewawancarainya kemarin.

Saat datang ke PA Jakarta Selatan, Venna memang menumpang mobil Toyota Alphard bercat hitam. Mobil bernomor polisi B 712 IV inilah yang menjadi salah satu  pemicu “sengketa” perebutan harta pasangan suami istri ini. Ivan mengaku membeli mobil mewah itu dengan cara mengangsur meski suratnya atas nama Venna.

Pekan lalu, Ivan memutuskan mengambil langkah sita harta bersama atau sita marital. Milano Lubis, S.H., kuasa hukum Ivan yang lain menjelaskan, kliennya selama menikah dengan Venna memiliki sejumlah harta yang terdiri dari beragam properti dan mobil.

Harta-harta itu adalah  tanah dan bangunan seluas 420 meter persegi di Jalan Paso Nomor 60, Jakarta Selatan, yang pernah menjadi istana bagi Ivan-Venna. Selain itu, ada juga satu unit mobil Jaguar bernomor polisi B 1168 RG, satu unit mobil Toyota B 712 IV, sebidang tanah dan bangunan villa di Pecatu Indah Resort, Uluwatu, Bali, serta dua unit apartemen Greenbay, Pluit, Jakarta Utara.

“Semua aset yang diajukan klien saya itu atas nama Venna Melinda. Ada yang dibeli oleh klien saya langsung. Sebagian lagi dibeli oleh Venna. Seperti villa di Bali dan apartemen Greenbay di Pluit,” ungkap Milano Lubis. Nilai aset rumah di Jalan Paso lebih dari Rp 5 miliar. Sementara villa di Bali ditaksir senilai Rp 3,2 miliar.  Total nilai harta pasangan ini selama menikah mencapai belasan miliar.

 

Sita marital

Bukan soal nilai yang menjadi kekhawatiran Ivan. Dalam sebuah wawancara dengan C&R, Kamis (11/4), Ivan menuturkan ada alasan tertentu yang membuat dirinya menempuh upaya hukum sita marital. “Saya sempat melihat mobil Jaguar itu tiba-tiba ada di showroom di kawasan Fatmawati. Pihak showroom mengatakan mau dijual. Kemudian, beberapa hari lalu, saya mendapat telepon dari pihak Bank Niaga. Menurut pihak bank tersebut, Venna ingin datang, dan melunasi angsuran rumah di Jalan Paso,” papar pria kelahiran 24 November 1966 ini. (lihat boks Hal 35)

Rupanya Ivan gusar, Venna mulai mengalihkan harta yang dianggap diperoleh Ivan tanpa sepengetahuan dirinya. “Saya katakan ke pihak bank, sampai detik ini saya belum ada rencana melunasinya. Dalam kesempatan itu, saya juga menceritakan kondisi perkawinan saya. Pihak bank lalu meminta saya membuat pernyataan tertulis mengenai kondisi perkawinan,” kata Ivan. Atas saran kuasa hukumnya, Milano, akhirnya Ivan mengambil langkah hukum dengan mengajukan sita harta bersama.

Sita harta bersama atau sita marital menurut M. Yahya Harahap dalam buku Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, Dan Putusan Pengadilan memiliki tujuan utama untuk membekukan harta bersama suami-istri melalui penyitaan, agar tidak berpindah kepada pihak ketiga selama proses perkara atau pembagian harta bersama berlangsung.

Pembekuan harta bersama di bawah penyitaan berfungsi untuk mengamankan atau melindungi keberadaan dan keutuhan harta bersama atas tindakan yang tidak bertanggung jawab dari tergugat. Sebelum Ivan, selebriti lain yang pernah mengambil langkah hukum ini adalah Halimah Agustina Kamil.

Beberapa tahun silam dalam sidang perceraian ibu tiga anak ini mengajukan sita marital atas gugatan cerai yang diajukan oleh Bambang Trihatmodjo. Alasannya, Halimah tak ingin harta yang diperoleh selama pernikahannya dengan putra mantan Presiden Soeharto sejak tahun 1981 itu berpindah ke tangan wanita lain, yang saat itu disebut-sebut Mayangsari.

  

Hibah untuk anak-anak

Tak terima dengan langkah Ivan, Venna malahan berceloteh tentang harta-harta yang dimilikinya selama ini. “Tidak semua ada kontribusi Mas Ivan. Sebagian malahan hasil keringat saya. Kalau mau ambil rumah di Jalan Paso dan mobil Alphard, silahkah saja. Saya ikhlas,” kata Venna, saat ditemui di Studio 1 Metro TV, Jakarta Barat, Jumat (12/4) malam, sambil beruai air mata.

Ivan ingin harta-harta itu bisa diperjuangkan menjadi haknya selain pengajuan hak asuh anak. Tujuannya, setelah ketuk palu perceraian, Ivan ingin apa yang menjadi haknya bisa dinikmati oleh kedua anaknya, Verrel Bramasta dan Athala Naufal. “Terus terang, saya tidak meminta sepeser pun dari harta yang saya cari, kecuali untuk anak-anak. Saya akan berusaha agar anak-anak mendapatkan tempat tinggal yang membuat hidup mereka nyaman,” tandas pengusaha ini.

Selama ini beberapa aset dalam perkawinan diakui Ivan diperolehnya dengan cara mencicil. Misalnya mobil Alphard dan rumah di Jalan Paso. Namun, memang semua aset tersebut dibeli atas nama Venna. Soal inilah yang memicu poin sensitif lainnya. Ivan ingin segera ditegaskan harta mana yang menjadi haknya, setelah adanya sita marital ini sebagai harta gono gini yang bakal dihibahkan untuk anak-anak.

Ivan tak ingin lantaran perjanjian pra nikah yang ditandatanganinya bersama Venna, 17 tahun silam, haknya akan gugur jika tak dilakukan sita harta bersama. Salah satu butir dalam perjanjian itu berisi kalimat: Harta benda yang dimiliki dan dibawa oleh pihak istri sebelum perkawinan dilaksanakan dan harta benda yang diperoleh pihak istri selama dalam perkawinan, akan tetap menjadi hak dan miliknya pihak istri sendiri”.

Namun, buru-buru Venna menegaskan tak akan menguasai harta yang diatasnamakan dirinya, tetapi ada kontribusi Ivan di sana.  Apalagi, Venna juga tak ingin menikmati sendiri harta yang menjadi bagian atau haknya kelak setelah dia bercerai dengan Ivan. “Semua aset yang dimiliki oleh klien saya nanti akan dihibahkan kepada anak-anak. Cuma tunggu waktunya. Mereka sekarang masih belum dewasa,” kata Kemala Dewi Mirza, SH.,  kuasa hukum Venna.

 

 

-o-0 Boks 0-o-

 

Prof. Yahya Haharap (Pakar Hukum Perdata) : Siapapun Bisa Mengajukan Sita Harta Bersama

Bersandar pada Pasal 186 KUHPerdata, dan Pasal 95 Kompilasi Hukum Islam (KHI), suami atau istri dapat mengajukan permohonan bersama di luar sengketa perkara perceraian maupun pembagian harta bersama. Bahkan, tanpa perkara apapun, suami atau istri dapat mengajukan permintaan sita tersebut kepada pengadilan.

Harta yang diajukan tentu saja harta bersama yang diperoleh selama perkawinan. Harta tersebut ditempatkan dalam suatu keadaan hukum. Sehingga tidak dibenarkan siapa pun, baik itu suami ataupun istri mengalihkan, mengibahkan, atau menjual.

Dalam sidang, majelis hakim akan memberikan kesempatan kepada pemohon untuk melakukan pembuktian terkait dalil-dalil yang diajukan dalam berkas permohonan sita harta bersama. Alat-alat bukti itu, jika untuk tanah atau bangunan rumah berupa sertifikat. Adapun untuk mobil dapat berupa BPKB.

Bukti-bukti itu sangat diperlukan untuk membuktikan harta yang terdaftar dalam berkas sita harta bersama memang benar-benar milik dari pemohon atau termohon. Sepanjang itu bisa dibuktikan serta didukung alat-alat bukti yang kuat, majelis hakim tidak punya alasan untuk menolak permohonan sita harta bersama yang diajukan oleh pihak pemohon. Termasuk permohonan sita harta bersama yang diajukan pihak suami atau istri yang memiliki perjanjian pra nikah. 

Dengan kata lain, suami atau istri dapat mengajukan permohonan sita harta bersama sekalipun terikat perjanjian pra nikah. Karena permohonan sita bersama itu terpisah dengan perjanjian pra nikah. (Budi K)

*Tabloid C&R Edisi 764

Selasa, 09 April 2013 15:05

Jakarta, C&R Digital - Orang Indonesia, konon paling sulit mengakui kesalahannya. Kita menganggap kesalahan seolah aib dan dosa besar yang tak terampuni dunia akhirat. Paradoks betul dengan sistem nilai yang dianut masyarakat yang  menempatkan kejujuran sebagai kemuliaan, termasuk berani mengakui kesalahan. Kita sering mengutip ungkapan yang diajarkan dalam agama, “katakan yang benar itu benar, demikian pun kalau salah, meskipun pahit”. Namun sejauh ini ungkapan tersebut menguap manakala kita dalam posisi berbuat salah.

Kecenderungan yang terjadi, kita malah berusaha sekuat mungkin menutupi kesalahan. Padahal, kita juga tahu menutupi kesalahan, bisa menyeret lebih jauh untuk terus berbuat kesalahan.

Belakangan, kita melihat kecenderungan menutupi kesalahan malah sengaja dipertontonkan. Inilah beberapa catatan  mengenai aksi menutupi kesalahan dari orang-orang terhormat di republik ini, yang  justru darinya kita sangat mengharapkan contoh konkret sikap jujur untuk mengaku jika melakukan kesalahan.

Masih segar dalam ingatan kita pada kejadian saat  anggota DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dipergoki mangkir  dalam rapat di DPR yang seharusnya dia hadiri. Buktinya, dia menandatangani absen hadir, padahal secara fisik dia mangkir.

Peristiwa itu diberitakan secara luas oleh pers. Melalui layar televisi, seluruh rakyat Indonesia menyaksikan bagaimana praktik mangkir itu dilakukan oleh Ibas. Rasa keadilan publik sungguh terusik, mengingat Ibas adalah sekjen partai berkuasa, Partai Demokrat, yang mengusung jargon partai santun. Lebih dari itu, Ibas adalah putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang selalu menekankan sikap santun dalam berpolitik.

Betul, Ibas akhirnya memang mengundurkan diri sebagai anggota DPR RI, tidak berapa lama setelah kejadian mangkir tersebut. Itu diberitakan secara luas oleh pers. Langkah yang diambil Ibas  patut diapresiasi sebagai pertanggungjawaban moral atas perbuatannya. Namun, sayang apresiasi itu diruntuhkan sendiri oleh Ibas.

Pengunduran dirinya ternyata tidak ada hubungan dengan peristiwa dia mangkir. Melainkan karena alasan kesibukan di partainya yang butuh konsentrasi. Artinya, Ibas tidak mengakui bahwa secara moral tindakan mangkir itu tidak patut  dan memalukan. Pengakuan itu penting untuk menjadi pedoman standar bagi seluruh pejabat publik.

Beberapa pihak sempat  memuji langkah pengunduran diri Ibas. Namun pihak- pihak yang dimaksud tampaknya terlalu cepat menyampaikan pujian, tanpa memeriksa alasan pengunduran diri Ibas sebenarnya.

Alasan pengunduran diri Ibas bukan lantaran kejadian mangkir. Terkonfirmasi kemudian dengan rencana Ibas untuk maju sebagai calon anggota legislatif, pada Pemilu 2014 nanti.

Fenomena sama terjadi  lagi dalam  penanganan kasus penyerangan 11 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, Surakarta,  di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, pada 23 Maret lalu. Penyerangan itu menewaskan empat tahanan Polda DIY,  tersangka pelaku pengeroyokan dan pembunuhan sadis Serka Heru Santoso, di Hugo’s Café, di Yogyakarta, empat hari sebelumnya.

Kasus LP Cebongan sempat memantik polemik pelbagai pihak, beberapa hari. Titik terang kemudian datang dari Jendral TNI Pramono Edhi Wibowo. Kasad TNI itu mengumumkan indikasi keterlibatan prajuritnya dalam peristiwa tersebut. Pihaknya pun membentuk tim investigasi untuk menyingkap para pelaku.

Hasilnya, seperti diumumkan Kamis (4/4) lalu,  pelaku adalah 11 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan.  Dalam pemeriksaan tim, para pelaku mengakui perbuatannya secara jujur. Motifnya terpanggil oleh semangat korsa prajurit untuk menuntut balas atas kematian rekannya.

Tidaklah berlebihan jika banyak pihak mengapresiasi kejujuran para prajurit Kopassus itu mengakui perbuatannya. Tidak kurang Presiden SBY  menyatakan pujian dengan menyebut para pelaku prajurit berjiwa ksatria. Namun, kata SBY, tindakan membela kehormatan korps itu salah dalam penerapannya.

Seluruh prajurit itu, kini menjadi tersangka dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Doktrin militer secara universal, menyebutkan tidak ada prajurit yang buruk, yang buruk adalah komandannya. Sikap itu telah ditunjukkan oleh para komandannya. Sejak awal Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso, telah menyatakan mengambil tanggung jawab, meskipun waktu itu sambil membantah keterlibatan anggota TNI dalam jajaran komandonya. Disusul kemudian pernyataan sama oleh Danjen Kopassus, Mayor Jendral TNI Agus Sutomo. “Saya orang terdepan bertanggung jawab,” katanya setelah tim mengungkap pelaku penyerangan.

Namun sayang, momentum pengakuan jujur ini tidak dilanjutkan secara utuh oleh pimpinan tertinggi lembaga militer dan kepolisian kita.  Memang Kapolda DI Yogyakarta telah dicopot, 5 April lalu, disusul kemudian pencopotan Mayjen TNI Hardiono Saroso, dari jabatannya sebagai Pangdam IV Diponegoro, yang baru sembilan bulan dipangkunya.

Dengarlah alasan pencopotan kedua perwira tinggi itu. Pencopotan mereka, katanya,  tidak ada hubungannya dengan peristiwa di LP Cebongan. “Bukan dicopot, melainkan dimutasi. Itu bagian dari evaluasi, pembinaan karier dan sebagainya,” kata keterangan resmi pejabat Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad) kepada wartawan.

Padahal, menyatakan secara jujur pencopotan Kapolda dan Pangdam itu sebagai konsekuensi logis dari penanganan kasus LP Cebongan, jauh lebih terhormat bagi institusi TNI dan Kepolisian. Betapapun  sanksi pencopotan itu amat pahit bagi perwira tinggi yang dicopot.

*Tabloid C&R Edisi 763

Selasa, 09 April 2013 14:58

Jakarta, C&R Digital - Kalah di sidang praperadilan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, tak membuat kubu Raffi Ahmad patah arang. Kini mereka membidik dokter yang memeriksa Raffi. Diduga, akibat kesalahan diagnosa, Raffi dinyatakan sebagai pecandu.

Tak seperti biasanya, Raffi Ahmad dikunjungi Dr. Sabir Alwy, pekan lalu. Ini bukan kunjungan biasa. Raffi yang tengah dalam masa rehabilitasi di Lido, Bogor, Jawa Barat, sempat terkejut, sebelum akhirnya bisa memahami maksud kedatangan Sabir. Saat itu, Wakil Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) ini ingin berbincang santai.

Sabir membawa misi penting. Inilah hasil kesepakatan Sabir dan kuasa hukum Raffi, Hotma Sitompul, yang sempat melaporkan dokter-dokter Badan Narkotika Nasional (BNN), karena dianggap tidak profesional. Sabir sedang menginvestigasi pengaduan Hotma.

Tak heran, selain berkunjung ke Lido, ia juga sempat mampir ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)  Cibubur, dan Gedung BNN, Jakarta. Meski Sabir belum bisa merilis temuannya, tetapi ia optimis, dalam waktu dekat, sudah ada laporan lengkap.

 

Berjenjang

Semuanya memang baru dugaan. Namun setidaknya, inilah buah kegigihan kuasa hukum Raffi, setelah mereka kalah dalam sidang praperadilan, 14 Maret lalu. Keputusan Ketua Majelis Hakim Sigit Sutriono yang menolak permohonan Raffi membuat Hotma berang. Apalagi keputusan itu jelas-jelas memerintahkan Raffi agar tetap menjalani rehabilitasi di Lido.

Sejak awal persidangan bergulir, Hotma menuduh BNN telah sewenang-wenang mengirim Raffi ke Lido. Setelah ketua majelis hakim menganggap langkah BNN sudah sesuai, Hotma kemudian bermanuver. Sasaran bidiknya adalah para pemberi rekomendasi, yang dianggap telah salah mendiagnosa Raffi. Laporan Hotma inilah yang menjadi pijakan Sabir bergerak.

Saat tulisan ini diturunkan, Sabir sudah sampai di tahap kedua. Ia telah mengumpulkan data-data penting, sebelum akhirnya memasuki fase berikutnya yaitu pemeriksaan data. Tahap pemeriksaan data akan membawa keputusan berikutnya, yaitu apakah nanti layak dibentuk Persidangan Disiplin Keilmuan Kedokteran atau tidak. Jika perlu, saat itulah Raffi bisa diundang. Dokter-dokter BNN yang telah memberi rekomendasi juga dinilai.

Langkah resume dan keputusan akan menentukan sanksi yang bakal didapat para dokter BNN yang memeriksa Raffi. Jika terbukti salah mendiagnosa, tim dokter akan memberikan beberapa rekomendasi. Pertama, pencabutan surat registrasi kedokteran. Jika dianggap masih bisa dididik, akan dikirim untuk mengikuti pendidikan khusus. Namun begitu, Sabir memastikan kalau diagnosa salah, tidak ada jaminan Raffi Ahmad bakal bebas. Ini bukan wewenang Sabir.

Apapun, gebrakan Sabir ini, sontak memberi harapan akan kebebasan Raffi yang terus diperjuangkan oleh tim kuasa hukumnya. Sementara itu, kuasa hukum BNN, Dwi Heri Sulistiawan memastikan pihak BNN bakal keberatan dengan rencana pemanggilan Raffi Ahmad. “Kalau mau manggil Raffi, itu enggak mungkin karena yang memeriksa tidak punya wewenang untuk memanggil Raffi. Dia bukan pihak dalam proses hukum ini,” kata Heri, seperti ditulis sebuah situs berita.

 

Laporkan hakim

Tak cuma bergerilya hendak menyeret dokter-dokter BNN, sebelumnya Hotma juga mengambil langkah baru untuk memberi “pelajaran” kepada Hakim Sigit Sutriono. Rabu (20/3), mereka melaporkan ketua majelis hakim  di sidang gugatan praperadilan Raffi tersebut ke Komisi Yudisial (KY). Menurut tim pengacara Raffi, Hakim Sigit  telah melakukan pelanggaran kode etik.

Memang sejauh ini belum ada penjelasan soal kode etik yang dilanggar Hakim Sigit. Hanya saja, menurut tim kuasa hukum Raffi, ada kejanggalan dalam sidang praperadilan lalu karena tidak menghadirkan Raffi Ahmad. Di situ diduga ada rekayasa. Hal ini karena Raffi sendiri sangat berharap datang. Tetapi ketua majelis hakim justru memerintahkan untuk tidak menghadirkan Raffi di depan persidangan.

Langkah-langkah itu memang sebagai wujud keyakinan Hotma, yang selalu berteriak-teriak bahwa Raffi tak bersalah. Hingga kini, KY belum memberi tanggapan. Sementara jika sejak awal BNN wanti-wanti untuk tidak mengizinkan Raffi keluar, pemeriksaan atas dokter-dokter yang memberi rekomendasi masih bisa dimungkinkan.

Dwi Heri Sulistiawan kembali menandaskan, sepanjang ada perintah penyidik, dokter itu boleh membuka medical record. Hal ini diatur dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 (tentang Narkotika) dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 (tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika).

Dua bulan menjalani rehabilitasi di Lido, berkas Raffi yang sempat diserahkan ke Kejaksaan Agung, sudah dikembalikan lagi karena belum lengkap. Rencananya, bila sudah dinyatakan lengkap, Raffi bakal memasuki masa persidangan. Selain itu, pihak imigrasi juga sudah mengeluarkan surat penundaan ke luar  negeri. Surat itu berlaku selama 20 hari. Bukan tanpa alasan pihak imigrasi mengeluarkan surat tersebut. Hal ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu Raffi dibutuhkan kehadirannya di pengadilan.

Jika dulu sempat diceritakan Raffi enjoy, kini ia dikabarkan tambah kurus. Hal ini karena Raffi stres dan banyak pikiran. Ia yang biasanya selalu dikelilingi banyak fans dan teman, harus  menjalani rutinitas tanpa ditemani oleh orang-orang tercintanya.

Sampai kapan Raffi akan terus meringkuk di Lido? Agaknya semua harus sabar menunggu proses peradilan, termasuk proses investigasi MKDKI dan klarifikasi KY. Hasil kerja dua institusi terakhir, mungkin bisa membantu ketua majelis hakim nanti mengambil keputusan terbaik.

 

 

--o-0 Boks 0-o--

 

Sahat Situngkir (Kuasa Hukum Raffi Ahmad) : Raffi Siap Memberi Keterangan

Kami menyambut baik langkah yang dilakukan MKDKI untuk membuktikan benarkah ada indikasi melanggar kode etik para dokter yang memeriksa Raffi.  Pihak MKDKI akan bertemu Raffi Ahmad untuk dimintai keterangan.  Kami baru menerima surat panggilan dari MKDKI hari Senin (8/4) ini. Undangan ini untuk Raffi Ahmad dan kami selaku kuasa hukumnya.

Pemeriksaan itu akan dilakukan di markas MKDKI di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Raffi sendiri siap untuk memenuhi undangan pihak MKDKI untuk dimintai keterangannya. Dan, tim kuasa hukum juga akan mendampingi Raffi menjalani pemeriksaan pada Kamis (11/4).

Apa yang dilakukan petugas BNN mengenai kondisi Raffi, dalam pemahaman kami, tidak selayaknya dipublikasikan di hadapan para wartawan. Apa pun hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter atau petugas BNN lain, tak perlu dijelaskan kepada wartawan.

Tempo hari itu jelas-jelas dikatakan Raffi Ahmad mengalami ganguan mental. Memang yang paling berat menerima keterangan itu adalah keluarga Raffi Ahmad, khususnya ibunya. Dan Raffi sendiri sempat tertekan dengan pernyataan tersebut. Sekarang ada kabar gembira bahwa pernyataan itu semestinya tak dipublikasikan.

Kami berharap MKDKI bisa meluruskan jika apa yang dikatakan petugas BNN yang menjelaskan kepada publik soal Raffi Ahmad mengalami kelainan mental itu keliru. Memang bukan perkara mudah menghapus imej publik yang sudah terlanjur terpengaruh pada keterangan petugas BNN. Namun upaya pelurusan ini setidaknya sedikit menentramkan.(Edy)

*Tabloid C&R Edisi 763

Selasa, 09 April 2013 14:54

Jakarta, C&R Digital - Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut, menggelar hajatan pernikahan anak keduanya, Danty Indriastuti Purnamasari, Minggu (7/4) pagi. Pernikahan ketiga Danty dengan Muhammad Ali Reza Nasution ini terbilang sederhana untuk ukuran keluarga Cendana. Namun, hajatan yang digelar di Rumah Titiek Soeharto, di Jalan Teuku Umar No.30 Jakarta Pusat itu, menjadi ajang reuni keluarga besar mendiang mantan Presiden Soeharto.

Ruas jalan Teuku Umar, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/4) pagi itu, tampak lebih ramai daripada biasanya. Sejumlah mobil mewah, seperti Mercedes Benz dan Toyota Alphard terparkir rapih di sisi kanan dan kiri jalan yang dinaungi  oleh pohon-pohon besar.  Sesekali tampak sejumlah pengendara sepeda berseliweran melewati jalan tersebut. Hari itu memang ‘Car Free Day” bagi warga Jakarta.

Sebuah tenda putih terpasang di halaman rumah nomor 30, yang bergaya arsitektur Eropa. Di trotoar depan pagar berjejer belasan papan bunga ucapan selamat untuk kedua pengantin dari sejumlah kolega. Tepat pukul 09.30 WIB ijab kabul Danty-Reza dimulai. Acara dipimpin oleh Kepala KUA Kecamatan Menteng, H.Ahmad Haikal, M.A.  Sedangkan mantan Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII (1998), Prof.Quraish Shihab tampil menyampaikan nasihat perkawinan.

Wali nikah Danty, adalah ayahandanya, Indra Rukmana. Reza memberikan mas kawin seperangkat alat salat dan perhiasan emas berlian. “Saya terima nikahnya dan kawinnya Danty Indriastuti Purnamasari binti Indra Rukmana, dengan mas kawin tersebut tunai,” kata Reza dalam satu tarikan nafas.

Berbalut busana pengantin baju demang putih dengan lapisan kain songket di pinggang,  Reza tampak gagah bersanding di pelaminan dengan Danty yang mengenakan kebaya Jawa brokat putih dengan hiasan paes di kening dan sanggul Jawa. Mereka duduk di pelaminan berlatar rangkaian bunga segar, setelah melakukan tradisi sungkeman kepada ayah dan ibu masing-masing.

“Ini pernikahan yang paling simpel atau sederhana yang pernah digelar di keluarga Cendana,” kata salah seorang kerabat Cendana, di sela-sela acara.

 

200 undangan

Tak ada rangkaian adat Jawa yang biasa mengiringi pernikahan anak-anak dan cucu-cucu mantan Presiden Soeharto. Sebut saja sewaktu pernikahan Lulu Tobing dan putra bungsu Mbak Tutut, Danny Rukmana,  yang digelar di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, 16 September 2006. “Ya, maklum deh ini kan pernikahan ketiga. Enggak usah ramai-ramai,” kata salah seorang kerabat.

Pada pernikahan Danty yang pertama, Mbak Tutut menggelar pesta meriah di Taman Mini, Jakarta Timur, 13 tahun silam. Sedangkan di pernikahan Danty yang kedua, digelar hajatan di kediaman Mbak Tutut,  di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, empat tahun silam. (lihat boks halaman 35). Rumah Teuku Umar no. 30 milik Titiek Soeharto yang tidak ditempati karena pemiliknya  menetap di Jalan Cendana, dekat kediaman ayahnya.

Persiapan pernikahan hanya kurang dari satu bulan saja sebelum hari-H. Mbak Tutut baru mengundang kerabat,  dua pekan silam. Tidak ada busana khusus yang dipakai panitia besar acara, atau digelarnya rangkaian adat Jawa kental. Saat akad nikah, Danty-Reza mengenakan busana pengantin berwarna putih. Setelah akad dan sungkeman, mereka sempat berganti busana.

Danty tampak cantik dengan kebaya modern berbordir kembang dengan warna dasar hijau tosca. Suaminya mengenakan baju demang berwarna senada. Mbak Tutut juga tampak anggun dengan kebaya panjang dan selendang brokat berwarna emas. Ayah mempelai wanita, Indra Rukmana, mengenakan baju demang hitam dengan peci warna senada.

Mbak Tutut menyebar 200 undangan saja. Dari jajaran pejabat negara tampak Djan Faridz, Menteri Perumahan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2. Selain itu hadir pula. mantan menteri di jaman orde baru Cosmas Batubara dan isteri, serta mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Suyono, yang juga mertua Rachel Maryam.

Keluarga besar mantan Presiden Soeharto dan Ny.Tien Soeharto, juga hadir. Misalnya Probosutedjo serta Wismoyo Arismunandar dan isteri.

 

Reuni keluarga

Ini memang pesta simpel dengan jumlah undangan relatif sedikit. Paling tidak jika diukur dari ketokohan Mbak Tutut dan suaminya yang dikenal sebagai pengusaha. Namun, yang pasti, syukuran pernikahan Danty-Reza menjadi semacam ajang reuni atau silaturahmi bagi seluruh putra putri dan cucu-cucu keluarga Cendana.

Keponakan-keponakan Mbak Tutut beserta adik-adik dan adik iparnya komplet datang. Mereka adalah Sigit Hardjojudanto dan isteri Elsje, beserta anak-menantu-cucu mereka seperti Ari Sigit yang tiba bersama isterinya, mantan artis Rika Callebaut.

Halimah Agustina datang bersama anak dan cucu (lihat boks). Seorang kerabat Cendana mengungkapkan inilah ‘pertemuan’ pertama Halimah-Mayangsari, setelah persemayaman jenasah mantan Presiden Soeharto, di rumah Cendana, 27 Januari 2008 malam.

Halimah ramah menyapa sejumlah sesepuh keluarga Cendana. Sepanjang acara ramah tamah di pesta perkawinan Danty-Reza, Halimah juga asyik bercengkrama dengan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto. Halimah menjadi salah satu pusat perhatian di pesta, bersama anak dan cucunya.

Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, tiba di tempat acara bersama putra semata wayangnya, Didit Prabowo. Mantan suaminya, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo, tiba menyusul. Tommy Soeharto juga tampak hadir.

  

--o-0 Boks 0-o--

 

Halimah-Mayangsari Jeda Lima Menit

Entah kebetulan atau tidak, Halimah Agustina Kamil datang tak bersamaan dengan mantan suaminya, Bambang Trihatmodjo. Halimah tiba di Rumah Teuku Umar No.30, lima menit sebelum Bambang, dan isteri barunya Mayangsari sampai. Halimah, yang akrab disapa Baby, datang pukul 09.05 WIB, bersamaan ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba di tempat acara.

Baby tampak cantik mengenakan kebaya modern dan selendang bermotif batik. Model rambut pendeknya yang di-higligh membuat perempuan berdarah Minangkabau-Thailand ini tampak segar. Baby datang bersama kedua anaknya, Gendis Siti Hatmanti yang mengendong anaknya, dan Panji Trihatmodjo. Aditya, putra bungsu Halimah tak tampak karena masih berada di Amerika Serikat.

Selang lima menit kemudian, datang Bambang Tihatmodjo dan Mayangsari bersama putri mereka, Khirani 

Siti Hartinah. Bambang yang mengenakan kacamata bingkai emas Cartier, mengenakan kemeja batik berwarna cokelat bermotif yang sama dengan kain dan selendang Mayangsari. Mayang mengenakan kebaya brokat orange yang dipadu dengan obin di pinggang. Dengan tas Hermes berwarna ungu tua  dan rambut sasak khasnya, Mayangsari tampak seperti umumnya perempuan sosialita Ibukota.

Masuk ke dalam ruangan utama, Bambang dan Mayang ditempatkan di kursi dengan meja bundar yang bersebelahan dengan kursi yang diduduki Halimah dan anak-anaknya. Tak ada tegur sapa antar mantan suami isteri itu, selama acara berlangsung. Gendis dan Panji tak menyalami ayahnya. Bambang pun tak tampak menghampingi anak-anak buah perkawinannya dengan Halimah itu.

Bambang-Mayang dan putri mereka tak berlama-lama duduk di tempat acara.(Telni)

*Tabloid C&R Edisi 763

Selasa, 02 April 2013 10:21

Jakarta, C&R Digital - Lama sepi dari gosip miring, tiba-tiba Venna Melinda bersikeras untuk bercerai dengan Ivan Fadilla. Aroma kehadiran orang ketiga atau pria idaman lain (PIL) pun tercium kuat seiring proses perceraian mereka. Apa sesungguhnya yang terjadi?

Senin (1/4), kejutan kecil dibuat Venna Melinda, saat sidang lanjutan perceraiannya dengan Ivan Fadilla kembali digelar di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Venna melalui kuasa hukumnya, Lelyana Santosa, kembali bersikeras ingin berpisah. Padahal, dua minggu yang lalu artis sekaligus anggota DPR dari Partai Demokrat itu,  masih berharap rujuk. Kenyataan ini lantas menebarkan bau tak sedap, bahwa Venna keukeuh ingin bercerai, karena faktor kehadiran orang ketiga.

Venna memang memilih diam. Ia baru mau ngomong, kalau Ivan sendiri yang menyodorkan bukti. Sementara pihak Ivan pun enggan melontarkan tuduhan. Hanya saja, Ivan berjanji akan melaporkan Venna ke Dewan Kehormatan DPR, jika sudah memiliki bukti kuat. Sebuah sumber C&R yang dekat dengan Venna, menyebut, Venna dikabarkan sedang dekat dengan Herry Lontung Siregar, anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi Hanura. Mereka pernah kepergok berduaan di Bandara Internasional Polonia Medan, awal Maret lalu. 

 

Godaan anggota dewan

Tentu saja ini bukan kabar gembira. Celakanya, nasib pilu ini tak hanya terjadi pada Venna. Sebelumnya, kolega Venna yang juga berasal dari artis dan menjadi anggota DPR,  yaitu aktris Rachel Maryam dan penyanyi Tere juga bercerai. Sama seperti Venna, rumah tangga mereka juga ambruk, saat menyandang status sebagai anggota dewan. Masing-masing hanya melontarkan alasan klise saat memutuskan menggugat cerai. Rumah tangga mereka diwarnai percekcokan terus menerus, hingga tak bisa didamaikan. Jalan satu-satunya, ya bercerai.

Kondisi ini tentu saja mengundang tanya. Apalagi sebelum menjabat sebagai anggota dewan, rumah tangga Rachel dan Venna jauh dari gosip miring. Tak ada isu pria intim lain (PIL). Memang, dibanding Rachel dan Venna, proses perceraian Tere dengan Eka Nugraha terbilang lebih soft. Ditambah lagi Tere kemudian mundur sebagai anggota DPR.  Namun kegagalan mereka berumah tangga saat sedang menyandang status terhormat, seperti menegaskan kenyataan, bahwa posisi anggota dewan  sungguh banyak mengandung godaan. Salah melangkah bisa memicu timbulnya skandal api asmara terlarang.

Faktor utamanya mungkin karena seringnya mengadakan kegiatan bersama. Venna dekat dengan Herry Lontung Siregar, bisa jadi karena sama-sama aktif mengasuh kelompok Kopaja (Komunitas Peduli Anak Jalanan). Sementara Rachel yang sempat digosipkan dengan  Poempida Hidayatullah, lantaran sering ikut kegiatan Kabinet Indonesia Muda (KIM) bentukan Budiman Sudjatmiko.

Sejauh ini, memang tak ada survei resmi tentang berapa persen para pesohor yang jadi anggota dewan bisa terus mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Namun tetap saja, sebagai role model, perceraian mereka menjadi contoh buruk bagi konstituennya. Terlebih jika motivasi berpisah itu dilandasi isu selingkuh, yang  masih dipandang negatif  oleh masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai kesetiaan!

 

Sempat ada harapan

Keputusan Venna untuk tetap bercerai, tentu saja mengecewakan pihak Ivan. Lewat pengacaranya, Muhammad Milano, Ivan bahkan menuduh Venna tak konsisten. Dua minggu usai menyebar harapan ingin rujuk, Ivan tak melihat ada perubahan sikap Venna. Padahal, ia masih berharap ada perbaikan. Setidaknya, selama dua minggu itu ada pembicaraan intensif, untuk mencari solusi terbaik.

Ironisnya, harapan untuk rujuk bahkan tak pernah disampaikan secara langsung pada Ivan. Ia hanya mendengarnya lewat media. Kebetulan, meski baru proses, mereka sudah tinggal terpisah. Ivan menyewa apartemen dan membawa serta dua anaknya, Verrel Bramasta dan Athalla Naufal. “Saya menghindar supaya tidak ada KDRT. Saya juga ingin introspeksi. Tapi, bukannya hubungan ini membaik, malah semakin memburuk,” kata Ivan pada C&R, Sabtu (30/3) siang.

Jika tak ada keajaiban, perkawinan yang sudah 17 tahun dibina itu dipastikan bakal rubuh. Apalagi Lelyana Santosa, pengacara Venna meyakinkan, bahwa kliennya tak akan menuntut banyak pada Ivan, termasuk harta gono gini. “Semua yang dilakukan klien saya demi kebahagiaan anak. Jadi dia ingin pisah baik-baik,” kata Lelyana.

Sekedar membalik kisah,  pertemuan Venna dan Ivan dimulai dari ajang Abang None Jakarta, tahun 1993. Ketika berkunjung sebagai Abang-None ke Amerika Serikat, keakraban di antara keduanya kian terjalin mesra. Saat ke Amerika itu mereka sering berpegangan tangan.  Tahun 1994, Venna mengikuti ajang pemilihan Putri Indonesia dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Pada 7 Desember 1995, mereka meresmikan hubungan sebagai pasangan suami-istri.

Selain pernah sukses di dunia hiburan, kiprah Venna di dunia politik juga lumayan mulus. Dengan dana minim, ternyata ia bisa lolos ke Senayan dari Dapil Jawa Timur VI. Karier politik Venna makin mantap saat di awal 2010 sempat hendak dicalonkan menjadi bakal calon Bupati Blitar. Ia diusung oleh Partai Demokrat dengan dukungan PKS, Golkar, dan PKB.

Sejak menjadi anggota Dewan, Venna aktif melakukan kunjungan sosial ke berbagai daerah yang membutuhkan perhatian. Seperti daerah pembuangan sampah di Bantar Gebang. Selain untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang kurang beruntung, Venna juga memberikan dukungan pada anak-anak kurang mampu, khususnya bidang pendidikan yang selama ini menjadi fokus utamanya.

Aktivitas ini, konon sempat membuatnya diprotes anak-anaknya lantaran terlalu sibuk. Venna mengaku, ia tetap berusaha menyediakan waktu bagi kedua anaknya, yang perlu perhatian karena mereka mulai beranjak dewasa. Sayang, catatan bagus itu harus berakhir tragis, saat Venna memutuskan untuk menggugat cerai Ivan, 22 Februari 2013 lalu. Rekor cemerlang Venna bakal semakin ternoda, jika desas-desus soal penyebab perceraiannya betul karena kehadiran orang ketiga.

 

--o-0 Boks 0-o--

 

Herry Lontung Dikenal Pandai Bergaul

Pintu ruang kerja Herry Lontung Siregar, anggota Fraksi Hati Nurani Rakyat (Hanura) DPR, yang berada di ruang 1622, Gedung Nusantara I, DPR Senayan, Jakarta Pusat, Senin (1/4) siang, terlihat terbuka. Tidak banyak aktivitas di ruangan tersebut, hanya seorang staf yang sedang bermain-main di komputer.

Sedangkan si empunya ruangan, tengah berada di luar kota. Menurut stafnya, mantan calon Walikota Padangsidempuan, Sumatra Utara, periode 2007-2012, itu tengah berada di Saudi Arabia. “Bapak, kan, lagi tugas ke sana,” ujar stafnya yang tak mau disebutkan namanya.

Ia mengaku tidak tahu kalau bosnya sudah sampai Jakarta, Minggu (31/3) malam atau belum.  Termasuk tak bersedia memberikan nomor ponsel sang bos. “Kalau soal nomor telepon, harus ada konfirmasi dari Bapak. Kalau tidak ada, ya tidak bisa,” kilah staf itu.

Nomor kontak Herry akhirnya didapat dari salah seorang anggota Komisi X. Ketika dihubungi, sambungan sedang dialihkan. Tak lama kemudian, terdengar suara untuk meninggalkan pesan.

Herry Lontung Siregar merupakan anggota Komisi X, yang membidangi pendidikan, pariwisata, pemuda, olahraga dan perpustakaan. Direktur sebuah hotel di Medan itu,  melenggang ke Gedung Senayan setelah meraup 23.358 suara,  di Dapil Sumatra Utara II, pada Pemilu 2009.

Pria kelahiran Padang Lawas Utara, Sumatra Utara, 25 Juli 1960, ini dikenal pandai bergaul. “Orangnya memang supel. Ia dekat dengan semua anggota Komisi X, ya tentu termasuk Venna itu.  Kan, Venna juga anggota Komisi X. Tapi, saya tidak melihat ada hubungan istimewa antarkeduanya. Ya wajar saja,” ujar rekannya di Komisi X, yang enggan disebut namanya.

Selain bertugas di Komisi “Hambalang” tersebut, Herry juga ditugaskan pada alat kelengkapan DPR sebagai anggota Badan Anggaran (Banggar).  Suami dari Hj. Syahmin Harahap itu, bersama anggota Komisi X lainnya, termasuk Venna Melinda, juga tercatat sebagai anggota Panja SEA Games dan Para Games 2011. Panja ini bertugas, di antaranya membahas anggaran pembangunan Wisma Atlet, yang membawa Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh ke dalam bui. (Adi W)

*Tabloid C&R Edisi 762

Selasa, 02 April 2013 10:14

Jakarta, C&R Digital - Perang mulut antara Adi Bing Slamet dan Eyang Subur terus bergulir dan semakin panas. Jika Adi beringsut ke kepolisian, sang eyang untuk pertama kalinya menampakkan diri kepada publik. Kasus ini seolah seperti menggarisbawahi fenomena kedekatan seseorang dengan guru spiritual merupakan hal yang sangat subyektif dan menjadi kejamakan di berbagai kalangan.

Adi Bing Slamet mendatangi Polda Metro Jaya, Senin (1/4) siang. Bukan membuat pengaduan tertulis seperti sesumbarnya. Artis bernama asli Ferdinand Syah Albar itu ternyata sekadar berkonsultasi alias bertanya pada aparat. Dalam pertemuan tersebut, Adi mengaku mendapat masukan terkait keinginannya untuk menjerat Subur secara hukum.

Tak ingin menggantang keyakinan, ia bahkan menegaskan telah menyimpan sejumlah barang bukti untuk memperkuat tudingan pada pria yang kerap disapa Eyang Subur tersebut. “Poinnya banyak, misalnya penistaan agama, penipuan, sampai pelecehan. Semua akan kita kuatin,” katanya saat ditemui di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin siang.

Mantan penyanyi cilik ini juga berencana mengadukan masalah tersebut ke Majelis Ulama Indonsia. Adi yakin betul, ia bisa memenjarakan mantan guru spiritual yang pernah sangat dihormatinya tersebut. “Yakin dong, kenapa enggak yakin menjerat. Kalau proses hukum satu saja fokusnya,” tegasnya.

Sementara itu, Ramdan Alamsyah, pengacara Eyang Subur tetap menanggapi dingin keyakinan Adi. Menurut Ramdan, orang yang menuding harus memiliki bukti atas tudingannya itu. “Buktikan soal tudingan santet, aliran sesat, pelecehan, penipuan, dan sebagainya,” ujar Ramdan.

Ramdan menampik anggapan, kliennya takut sehingga tak berani bersuara dan bertindak. Eyang Subur menurutnya hanya akan berbicara pada penegak hukum.  “Eyang diam saja karena takut fitnah. Kalau memang mau melaporkan, silahkan. Itu lebih baik bagi kami agar persoalannya jelas dan selesai. Eyang siap memberikan keterangan,” tegasnya.

 

Antara percaya dan tidak

Tidak semua pesohor memiliki guru spiritual. Namun, tidak sedikit pesohor yang mencari ketenangan dan kesuksesan melalui sosok yang dianggap mengerti banyak itu. Genderang seperti ini kerap ditabuh kencang-kencang di sejumlah media massa , meski seringkali disimpan di lipatan hati masing-masing orang.

Guru spiritual, orang pintar, dukun, paranormal, atau apapun namanya sebenarnya memiliki satu benang merah. Predikat itu melekat lantaran mereka dianggap mengerti dan bisa menjadi panutan atau panduan atas pertanyaan-pertanyaan manusia yang tak terjawab. “Memperbaiki akhlak, itu poinnya,” ujar Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, M.Ag., Sekretaris Komisi Fatwa MUI. (baca hal 28 rubrik Bincang Bincang)

Tak ada yang salah dalam hal ini, menurut Asrorun. Setiap orang berhak mengejar kekayaan, popularitas, keamanan, kenyamanan, hingga cinta dan ketenangan seperti yang diinginkan. “Namun, sekarang ada pergeseran makna. Orang pinter dimaknai sebagai orang yang mampu melariskan dagangan, pengasih, mempercepat karier, dan sebagainya. Ini yang tidak benar,” tegasnya.

Mantan Presiden Soeharto bisa menjadi salah satu contoh keterikatan para kaum sibuk dengan dunia supranatural. Dalam Edisi Khusus Majalah Tempo, 10 Februari 2008, di artikel: Soedjono dan 'Orde Dhawuh', ditulis Soeharto telah mengenal dunia klenik sejak masih muda dan memiliki seorang guru kebatinan Jawa bernama Rama Marta.

Paranormal Ki Joko Bodo turut mengamini bahwa ‘klien’nya datang dari banyak pihak. Profesi yang digelutinya memang membuat ia mengenal dan dikenal banyak orang dari kalangan artis, politikus, hingga pejabat negara. “Orang Indonesia senangnya pada berdukun. Dari beragam kalangan, mulai dari lapisan bawah sampai atas,” kata pria bernama asli Agus Yulianto itu kepada Tempo.

Kedekatan dan keterikatan seperti itu menjadi semakin jamak terutama ketika kehidupan menjadi pelik dan memusingkan. Apalagi, latar belakang budaya Indonesia tak bisa lepas dari aspek yang kental dengan nuansa spiritual ini. Tengok saja betapa Maia Estianty dan Angelina Sondakh pernah terlihat begitu dekat dengan Hj. Nuur Binti Muhammad Baabud alias Umi Nung pasca kehidupan mereka yang mendadak berpilin kencang di pusaran arus.

Dan, seperti mekanisme getok tularditambah akurnya selebriti dengan media massakedekatan Maia dan Umi Nung, merembet ke sejumlah nama pesohor lain. Luna Maya, Krisdayanti, Yuni Shara, Rossa, Baim Wong, Adly Fairus, hingga Ivan Gunawan diketahui pernah berkeluh kesah pada wanita asli Jawa Timur itu. “Saya hanya perantara. Semua itu datang dari Allah. Kalau Maia bangkit lagi itu bukan karena saya, melainkan karena Allah,” terang Umi dalam sebuah kesempatan.

 

Pak Kiai

Kisah serupa terjadi di balik kedekatan Reza Artamevira dengan Gatot Brajamusti, Anang Hermansyah dengan Mahmud Nahrowi, dan masih banyak lagi. “Artis yang bergantung pada tokoh spiritual sebenarnya terjadi sejak tiga puluh tahun lalu,” terang psikolog DR. Rose Mini A Priyanto, M.Psi. “Selama ada persaingan dan tekanan dalam karirnya, pasti ada artis yang meminta bantuan tokoh spiritual,” imbuhnya.

Mahmud yang biasa dipanggil Pak Kiai itu, biasa dijadikan Anang Hermansyah sebagai tempat curhat tentang karier serta menjadi pemberi masukan dan penunjuk jalan tentang hidup.  Mantan isterinya, Krisdayanti (KD) mengakui hal tersebut. “Saya mengaminkan saja karena saya mengerti doa dan restu dari seorang tokoh agama merupakan berkah,” kata KD dalam buku Catatan Hati Krisdayanti, My life My Secret yang ditulis Alberthiene Endah.

Antara percaya dan tidak, meminta berkah, restu maupun doa dan bantuan pada hal-hal yang tak kasat mata memang bisa lepas dari nalar dan cara berpikir manusia. Untuk memisahkan hal inilah, Adi maupun Eyang Subur seharusnya menyeberang ke ranah yang lebih rasional dan pasti, yaitu hukum tertulis.

Adi dalam konteks seperti itu,  bisa dibilang sudah melangkah. Meski sebatas meminta pendapat atau ‘curhat’ ke pihak kepolisian, ia lantas membuka janji akan menempuh upaya yang lebih konkret. Sedari awal, Adi memang sudah menegaskan niatan untuk membongkar keburukan ‘praktik’ sang eyang. “Saya juga siap dilaporkan ke polisi apabila dianggap fitnah dan mencemarkan nama baik. Di belakang Subur ada jendral dan pengacara. Di belakang saya ada Allah, jendral dan pengacara juga,” ujarnya.

Keyakinan, seperti halnya hipnotis yang diyakini terjadi padanya, dalam taraf yang paling umum akan sulit berimplikasi pada dunia nyata. Jika tidak melangkah lebih jauh, Adi akan terus curhat kepada kepolisian, seperti yang dilakukannya kepada Subur selama 17 tahun.

  

--o-0 Boks 0-o--

 

Kombes Pol. Rikwanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya : Adi Belum Melapor

Betul bahwa hari ini, Senin (1/4) saudara Adi Bing Slamet datang pada kami. Ia datang bersama 11 rekannya, ada juga Ki Kusumo saya lihat. Mereka datang dalam kepentingan terkait apa yang saudara Adi alami. Ya seperti yang menjadi pemberitaan, akhir-akhir ini.

Namun, kedatangan itu sekadar bertanya apakah tindakan seperti yang saudara Adi tuduhkan bisa dianggap pelanggaran hukum. Jadi, baru sebatas berkonsultasi dengan penyidik.

Saya sudah mengecek ke Sentra Pelayanan Kepolisian. Ternyata sampai Senin hari ini, saudara Adi belum membuat laporan apapun. Hingga usai konsultasi hari ini, saudara Adi bahkan masih berpikir untuk membuat laporan karena menurutnya masih perlu pendalaman dan perundingan terkait apa yang hendak ia laporkan.

Laporan seperti itu kan memang harus disertai barang bukti. Dan ini perlu dipersiapkan agar tidak sebatas omongan. Jadi, sekarang kembali lagi ke saudara Adi. Apakah dia bisa menyiapkan dan melengkapi bukti pendukung untuk membuat laporan atau tidak.(Budi G)

*Tabloid C&R Edisi 762

 

  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  Next 
  •  End 

ENTERTAINMENT NEWS ONLINE