Jakarta, C&R Digital - Hari terakhir festival musik jazz internasional, Java Jazz Festival menampilkan grup musik yang sudah lama vakum, The Groove. Band tersebut reuni di Java Jazz dengan personil lengkap hari Minggu lalu, di A1 Tebs Stage JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Aksi panggung dari band yang beranggotakan Rieka Roeslan (vokal), Reza (vokal), Yuke (bas), Ali Akbar (piano), Rejos (perkusi & vokal) itu berhasil mencuri perhatian dari ratusan pengunjung yang hadir di Java Jazz.
Kolaborasi antara suara Reza yang berat dan lembutnya suara Rieka kembali hadir malam itu. Lagu-lagu seperti Semisal Khayalan, Dahulu, Katakan Dengan Cinta, dan Hanya Karena Cinta mereka bawakan kembali dengan apik. Aksi mereka membuat penonton ikut berjoget dan juga bernyanyi dari awal lagu.
Usai membawakan lagu Hanya Karena Cinta, tiba-tiba penyanyi dan pencipta lagu berdarah Jepang dan Amerika, Monday Michiru naik ke atas panggung. The Groove dan Monday Michiru berkolaborasi dengan membawakan lagu Play It by Ear. Penyanyi asal Jepang itu memakai balutan dress berwarna hitam dilengkapi bulu-bulu.
Kemudian, The Groove juga berkolaborasi bersama Monday Michiru membawakan lagu yang melambungkan nama Monday Michiru di dunia musik berjudul You Make Me. Di lagu Pangeran dan Putri, pemain perkusi The Groove, Rejos turun tangan. Ia berduet bersama Rieka sementara Reza asyik berjoget mengitari panggung.
Jakarta, C&R Digital - Penyanyi jazz kelahiran Polandia yang tenar di era 80-an tampil kedua kalinya di hari terakhir Java Jazz, Minggu lalu. Satu hari sebelumnya dia juga tampil di festival tersebut. Di penampilan keduanya itu, Basia tampil di D1 Telkomsel Hall JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Meski usianya sudah menginjak 59 tahun, Basia masih prima dengan vokal yang tingginya sekitar tiga oktaf. Penonton yang memenuhi tempat duduk di ruangan malam itu sangat menikmati penampilan Basia.
Malam itu, pemilik nama lengkap Barbara Trzetrzelewska ini mengenakan gaun setelan berwarna hitam yang gemerlap. Dia tampil di dampingi oleh dua penyanyi latar perempuan yang berpakaian hitam juga. Hadir juga seorang gitaris akustik asal Italia lengkap dengan bandnya.
Ini merupakan kedatangan pertama Basia di Indonesia. Malam itu Basia sukses memukau para penonton dengan lagu-lagu seperti Astrud, Third Time Lucky, New Day For You, Cruising for Bruising, hingga Baby You're Mine. Seperti ingin kembali ke masa lalu, dia juga membawakan lagu di album pertamanya, Time and Tide.
Jakarta, C&R Digital - Craig David, penyanyi R&B berkebangsaan Inggris sukses menghibur para penggemarnya di festival musik jazz internasional, Java Jazz Festival 2013, Minggu malam, kemarin. Tampil di hari terakhir festival tersebut, Craig David mengajak penonton berpesta dengan membawakan total 14 lagu.
Craig David yang tampil di panggung D2 Djarum Super Mild Hall itu naik ke atas panggung sekitar pukul 21.14 WIB dan langsung membuka penampilannya dengan lagu Flava. Penonton yang sudah menunggu sejak hampir selama satu jam itu sontak berteriak menyambut idolanya di atas panggung.
Tanpa jeda, David membawakan tiga lagu sekaligus seperti Time To Party, Hidden Agenda, dan Spanish. Penonton mulai bergoyang sambil ikut bernyanyi dari awal lagu.
"Selamat malam Jakarta, ini kedua kalinya saya datang kesini dan terima kasih sudah mau datang malam ini," kata David yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang putih. "Ini adalah kota terbaik yang pernah saya datangi."
Craig David melanjutkan penampilannya dengan menyanyikan lagu Walking Away, Rise and Fall, Love You No More. Penonton kembali bersorak dan ikut bernyanyi. Hal serupa juga terjadi saat David membawakan lagu Rendevous dan All The Way.
Setelah membawakan lagu All The Way, David meninggalkan panggung untuk berganti pakaian sedangkan para anggota sound David sibuk menyiapkan seperangkat alat musik elektronik di tengah panggung. Setelah naik dengan mengenakan kemeja merah dengan celana panjang hitam, David ternyata mencoba keahliannya bermain Disc Jockey (DJ) sembari mengajak penonton berpesta.
Dalam permainan DJ-nya tersebut, David me-remix beberapa lagu termasuk lagu We Found Love milik Rihanna dan So Sick milik Ne Yo. Penonton bergoyang mengikuti irama yang diciptakan oleh Craig David dengan alat musik elektroniknya tersebut.
Selesai berpesta bareng penonton, David melanjutkan nyanyiannya dengan membawakan lagu Rewind dan Fill Me In. Setelah kembali mengucapkan terima kasih kepada penonton, David membawakan lagu terakhirnya, Insomnia. Penonton kembali bersorak dan bergoyang. David juga langsung meninggalkan panggung setelah penampilannya tersebut.
Penonton yang merasa belum puas, mengharapkan tambahan lagu atau encore. Semua penonton yang memadati ruangan hall tersebut sontak berteriak "We One More,, We One More,, We One More".
Tak ingin mengecewakan penggemarnya, David kembali naik ke atas panggung dan mengabulkan permintaan penonton. Craig David langsung membawakan lagu 7 Days yang ikuti penonton. Akhirnya lagu tersebut benar-benar menjadi penutup konser David.
Ini kali pertama David tampil di Java Jazz. Dalam penampilannya tersebut dia membawakan sekumpulan lagu-lagu yang masuk dalam Greatest Hits yang diambil dari album pertamanya Born To Do It (2000) hingga album terbarunya Following My Intuition (2013).
Jakarta, C&R Digital - Penyanyi soul asal Inggris, Joss Stone sukses memukau para penggemarnya di penghujung hari pertama festival musik jazz internasional, Java Jazz Festival 2013 di JIEXpo kemayoran, Jakarta. Joss Stone yang malam itu tampil di D2 Djarum Super Hall membawakan sekitar 14 lagu.
Joss Stone malam itu mengenakan gaun hitam dengan corak bunga berwarna emas. Diawali dengan memutar lagu Indonesia Raya, Joss Stone langsung naik ke atas panggung sekitar pukul 23.41 WIB dengan membawakan lagu Give Me Power To The People. Penonton sontak bersorak dan berdiri dari kursi.
"Terima Kasih, sangat senang bisa berada di sini," kata Joss Stone kepada para penonton yang hampir memenuhi kursi di ruangan D2. Memasuki lagu kedua dan ketiga, Joss Stone sepertinya tidak nyaman melihat jaraknya di atas panggung dengan penonton yang duduk.
Di lagu Super Duper Love, Joss Stone beranjak turun dari panggung dan mendekati penonton. Beberapa penonton tak menyiakan kesempatan tersebut dan maju untuk lebih dekat dengan idolanya. Meski begitu para petugas keamanan konser dengan sigap langsung menyuruh penonton mundur dan menempati tempat duduknya.
Joss Stone yang tidak ada hentinya berinteraksi dengan penonton kembali turun panggung dan langsung mengajak penonton. "Apakah aku harus berdiri di bawah agar kalian bisa mendekat ke sini?" Tanya Joss Stone. Penonton pun akhirnya menuruti keinginan Joss Stone untuk beranjak dari tempat duduk dan berdiri di dekat panggung.
Semenjak itu, Joss Stone bernyanyi dengan penuh gembira. Lagu-lagu seperti Karma, Teardrops, Free Me, Tell Me What We Gonna Do Know, Every Time I Turn Around, Right To Be Wrong, dan Baby Baby Baby dia bawakan dengan apik. Joss Stone tak henti juga berbicara dengan pentonton. Tampak keakraban antara Joss Stone dan Penggemarnya.
Di akhir penampilannya Joss Stone berkata "Terima Kasih" kepada para penonton dengan bahasa Indonesia sembari membagikan seikat bunga mawar putih yang sudah dia siapkan.
Jakarta, C&R Digital - Kementerian Perdagangan menilai Java Jazz Festival yang baru saja berlangsung di Jakarta semakin memperkuat citra positif negara Indonesia di mata dunia.
“Pencitraan melalui Java Jazz berhasil. Karena ini yang ke-sembilan kalinya, dan dari tahun ke tahun, semakin bagus. Kami berharap, agar bisa terus berlanjut,” kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Hesti Indah Kresnarini saat menghadiri Java Jazz Festival di JIExpo Kemayoran Jakarta Pusat, kemarin.
Java Jazz kini bukan hanya konser musik, ia sudah bergeser menjadi gaya hidup kaum urban. “Karena ada perubahan gaya hidup, akhirnya terjadi multiplier, ekonomi berjalan lebih cepat,” kata Hesti.
Kemendag melihat hasil penyelenggaraan Java Jazz bukan hanya sebatas nation branding, tetapi juga product branding. Tetapi dari semua upaya dan kegiatan branding tidak mengarah pada pencitraan pejabatnya, termasuk Menteri Perdagangan Gita Wiryawan. “Pejabatnya tidak di-branding, karena kebetulan saja dia seorang pianis dan sering tampil, termasuk di panggung Java Jazz,” kata Hesti.
Gita Wiryawan yang ditemui wartawan usai tampil di panggung sempat mengungkapkan perasaan puas dengan penampilannya. Ia sempat memainkan dua lagu, termasuk hasil aransemen musisi senior Dwiki Dharmawan. “Satisfied, refreshing. I always feel good to be here at Java Jazz. It is amazing (saya selalu merasa senang bisa berada di Java Jazz, luar biasa),” kata Gita usai tampil di Java Jazz Festival.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag, Dody Edward mengatakan bahwa Java Jazz sudah menjadi agenda tahunan, dan dikenal bukan hanya di lingkup regional tetapi internasional. “Java Jazz sudah lebih besar dibanding North Sea Jazz Festival (di Belanda). Jumlah pengunjung, penampilan, panggung Java Jazz lebih besar,” kata Dody Edward.
Dody mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sangat bangga dengan kesuksesan penyelenggaraan Java Jazz. Karena industri musik memiliki mata rantai yang sangat panjang, berdampak pada kegiatan ekonomi. Selain art performance, Java Jazz juga melibatkan industri perlampuan, koreografi, periklanan, industri rekaman, radio, televisi dan lain sebagainya. Java Jazz juga mengumpulkan berbagai simpul ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja.
Dan satu hal lagi yang paling penting, menurut Dody adalah, bahwa industri musik sangat terkait dengan originalitas produk/jasa. Semakin orang terlibat pada industri musik, semakin yang bersangkutan menghormati hasil karya seorang musisi. Pada kenyataannya, semakin banyak orang Indonesia yang suka dengan musik, termasuk jazz. “Berarti concern masyarakat terhadap originalitas semakin meningkat,” kata Dody.
Sehingga setiap kali ada ajang musik, masyarakat juga akhirnya bicara mengenai kebudayaan. Bangsa yang besar juga sangat menghargai nilai-nilai budaya. Hasil budaya akan bernilai tinggi, ketika masyarakatnya ikut menghargai. “Kalau masyarakatnya maju, mereka pasti menghargai kebudayaannya, termasuk kebudayaan musik,” kata Dody.
Apresiasi masyarakat terhadap musik jazz makin meningkat melalui festival-festival jazz selain Java Jazz. Ada Jazz Goes to Campus, Ambon Music Jazz Festival, dan lain sebagainya. Musisi dalam negeri juga semakin berminat memainkan alat musik tradisional Indonesia. Kekayaan dan kekhasan alat musik tradisional Indonesia ditemui hampir di semua daerah.
“Alat musik dari Sumatera Barat, Jawa, Maluku, bahkan Irian juga punya tifa yang sangat khas. Musisi jazz Indonesia membuat kombinasi permainan alat musik tradisional dengan modern. Hasilnya, ternyata mendapat respons yang bagus dari pengunjung Java Jazz," kata Dody.
Jakarta, C&R Digital - Ajang Java Jazz Festival 2013 hari pertama sekaligus digunakan sebagai ajang promo album baru dari penyanyi beraliran jazz, Andien. Album bertajuk ANDIEN ini adalah album kelima setelah 2 tahun belakangan vakum membuat album.
"Malam ini kalian akan menjadi saksi. Saya akan memperkenalkan sesuatu yang spesial, yaitu album saya. Albumnya vintage, tapi dengan sentuhan musik zaman sekarang. Judulnya ANDIEN," katanya di Hall B1 JI Expo Kemayoran, Jakarta Pusat (1/3), dikutip dari situs berita Antara.
Penyanyi bernama lengkap Andien Aisyah Haryadi ini lalu menyanyikan beberapa single dari album barunya, seperti Teristimewa, I Am Really Happy With You, Bernyanyi Untukmu dan Langit dan Bumi. "Teristimewa merupakan karya Abenk Soulvibe. Bernyanyi Untukmu juga menjadi OST filmnya Luna Maya, PINTU HARMONIKA," lanjutnya.
Pelantun lagu Gemilang ini berencana menjadikan lagu Bernyanyi Untukmu sebagai jagoan pertama. Sedangkan Langit dan Bumi yang merupakan ciptaan Tulus siap menjadi single kedua dari album tersebut.
Bagi penyanyi kelahiran 25 Agustus 1985 ini, sebuah album adalah profil yang harus ada sebagai seorang penyanyi. Karenanya, jebolah sekolah musik Elfa Secioria ini tak mau main-main dalam membuat sebuah album. " Album buat saya adalah karya yang tulus banget. Setiap lagu yang saya nyanyikan, saya merasa ada tanggung jawab, juga pesan positif yang disampaikan ke pendengar," imbuhnya.
Selama berkarir di dunia musik, Andien telah menelurkan empat album, yakni Bisikan Hati (2000), Kinanti (2002), Gemintang (2005) dan Kirana (2010).
Jakarta, C&R Digital - Musisi reggae dan pencipta lagu asal Jamaika, Jimmy Cliff, sukses mengajak para pengunjung Java Jazz Festival 2013 bergoyang. Penyanyi berusia 64 tahun ini tak kehilangan semangat dan kharismanya saat tampil bersama para personil bandnya.
Dengan menggunakan kemeja merah dengan kaos dalam hitam, Jimmy Cliff naik ke atas panggung sekitar pukul 19.45 WIB, Jumat malam (1/3). Jimmy Cliff yang tampil di Panggung A-3 BNI Hall itu langsung menggebrak dengan lagu You Can Get It If You Really Want.
Sepanjang penampilannya, penonton menikmati lagu yang dibawakan salah satu musisi legendaris dari dunia reggae itu. Di lagu Hakuna Matata, penonton tak hentinya menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri sambil melambaikan kedua tangannya ke atas.
Suasana area panggung yang berada di JIExpo Kemayoran itu langsung memanas ketika Jimmy Cliff membawakan salah satu lagu yang paling dikenal oleh penggemar musik reggae di Indonesia, I Can See Clearly Now. Penonton ikut bernyanyi bersama dari awal lagu hingga akhir.
Di penampilan akhirnya Jimmy Cliff membawakan lagu permintaan dari para penonton berjudul One More. Lagu tersebut disambung dengan lagu enerjik berjudul The Harder They Come.
Cliff merupakan bintang musik reggae pertama dan salah satu yang terbesar dalam menyebarkan musik Jamaika ke berbagai belahan dunia. Sejak 1969, dia mulai berkarya dikenal melalui lagu Wonderful World, Beautiful People yang mencapai posisi keenam di Inggris dan ke-25 di Amerika Serikat. Pada 1970-an, kariernya semakin menanjak dengan albumnya yang berjudul The Harder They Come.
Sejak 1968, Cliff telah meluncurkan berbagai album. Terakhir, Ia meluncurkan album berjudul Rebirth, tahun lalu. Di Grammy Awards ke-55 tahun ini, album tersebut masih mengantar Cliff meraih penghargaan di kategori Best Reggae Album.
Jakarta, C&R Digital - Penyanyi sekaligus duta reggae Indonesia, Ras Muhamad menjadi salah penonton yang menikmati penampilan musisi reggae legendaris Jimmy Cliff di Java Jazz Festival, hari ini.
"Luar biasa, beliau termasuk sosok yang mengagumkan," kata Ras Muhamad kepada C&R Digital saat ditemui usai penampilan Jimmy Cliff di Jakarta. "Walau usianya sudah hampir 65 tahun tapi bisa dilihat tadi penampilannya sangat enerjik dan sangat interaktif dengan penonton. Penampilan tadi keren banget."
Sosok Jimmy Cliff memang idolanya sejak kecil dan menjadi salah seorang yang menginspirasinya dalam bermusik. Menurut Ras, Jimmy Cliff bisa menyapa langsung para penggemarnya di Indonesia menjadi hal yang sangat luar biasa.
"Dia termasuk pelopor musik reggae Jamaika sebelum memasuki Bob Marley dan termasuk legenda reggae juga," kata Ras. "Apalagi dia baru saja menang sebuah penghargaan di Grammy Awards tahun ini di kategori Best Reggae Album, jadi bisa sangat spesial banget beliau bisa tampil di sini."
Keinginan Ras Muhammad untuk mendengarkan lagu idolanya yang berjudul You Can Get It If Really Want dan The Harder They Come pun terwujud. Jimmy Cliff membawakan sederatan lagu tersebut di panggung Java Jazz.
"Termasuk kaget juga waktu dengan kabar satu bulan lalu kalau Jimmy Cliff bakal dateng ke Indonesia, dan sekarang memang sengaja buat mengkosongkan jadwal karena sudah diniatin buat dateng," kata Ras.
Ras Muhamad adalah penyanyi sekaligus pengarang lagu beraliran reggae yang lahir di Jakarta. Dia pindah mengikuti keluarganya ke Kota New York, Amerika dan tinggal di sana dari tahun 1993 sampai Juli 2005. Perjalanan musikalnya sebagai seorang pemusik, penyanyi dan pengarang lagu berawal sejak remaja, saat tinggal di daerah Queens, New York.
Ras Muhamad telah meluncurkan sedikitnya tiga album, yakni Declaration Of Truth, Reggae Ambasador, dan Next Chapter. Dua di antara albumnya direkam secara indie.
- HOT NEWS
- Popular
- Tags
