"Musik tradisional jika dikembangkan pasti lebih menarik," ungkap Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Prof. Arief Rahman, saat konser bertajuk Karawitan Muda Indonesia di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), kemarin.
Arief menjelaskan, selama ini mata generasi bangsa tertutup silaunya musik dan kebudayaan barat. Mereka beranggapan jika tak mengikuti trend, nggak gaul. Terlebih, perkembangan musik Korea yang kian mendunia membuatnya kian was-was karena digandrungi pula oleh remaja Indonesia.
"Sedikit cemas melihat animo anak muda sekarang menonton musik korea, itu seperti saingan berat bagi musik tradisioanl," keluhnya. "Acara ini digelar untuk menunjukan kualitas musik tradisional yang tak kalah menarik dengan musik barat."
Acara ini juga diharapkan bisa menjaga nilai sejarah musik tradisional dan kebudayaan Indonesia ditengah maraknya musik dan gaya hidup dari negara barat. "Generasi muda harus mempertahaan nilai-nilai kehidupan," kata Arief.
Karenanya, peserta acara ini khusus untuk kawula muda. "Pesertanya berusia 17-25 tahun. Intinya harus regenerasi, supaya budaya Indonesia tidak punah," imbuhnya.
Arief menambahkan, Acara yang dianggap tak populer ini membuat panitia sulit mencari sponsor. "Itu menjadi faktor utama juga, tapi dengan bantuan Mendikbud, berharap acara seperti ini bisa terus dilaksanakan," harapnya. "Acara ini juga menjadi program unggulan di Mendikbud."
Selanjutnya, Arief berharap acara serupa bisa rutin digelar untuk melestarikan budaya bangsa."Dengan mengadakan acara musik tradisional secara rutin, saya berharap bisa memberikan wawasan kepada generasi muda," pungkasnya.
{itpsharepoint}
