Mahalnya Harga Lukisan Lee Man Fong

  • Jumat, 03 Agustus 2012 11:30
  • Oleh :  admin
  • Media

Jakarta, C&R Digital - Lukisan karya seniman Indonesia Lee Man Fong, berjudul, terjual seharga Rp 16 miliar dalam lelang Christie’s di Hong Kong, beberapa waktu lalu. Lukisan yang menggambarkan 15 ekor ikan emas hias itu dibuat pada 1940.

Man Fong, kelahiran Tiongkok namun lama menetap di Indonesia dan dekat dengan Bung Karno, tergolong pelukis maestro sekelas Affandi. Sebelum Fifteen Goldfish,beberapa karya Man Fong lain juga terjual sangat mahal di balai lelang, meski dia tak lagi menikmatinya. Man Fong meninggal pada 1988.

Man Fong lahir di Guangzhou, Tiongkok, 14 November 1913. Awalnya Man Fong tak diijinkan untuk menjadi seorang seniman oleh sang ayah, Lee Ling Khai, seorang pebisnis tulen. Meski keluarganya berkonsentrasi di dunia dagang, Man Fong memilih sikap yang lain. Ia meyakini uang tak hanya bisa dicari dengan cara berdagang saja.

Sejak usia empat tahun Man Fong sudah mulai melukis yang awalnya menggunakan pinsil, kemudian meningkat ke pinsil warna, lalu krayon, pastel hingga cat air. Dalam melukis dia pandai memberikan argumentasi dan deskripsi atas lukisan-lukisannya dengan segenap pengetahuan dan khayalannya.

Saat ayahnya meninggal (1930), Man Fong mulai menghidupi keluarganya dengan kemampuan melukisnya di Singapura. Tahun 1932, dia hijrah ke Jakarta untuk berkerja sebagai pelukis komersil. Tahun 1936, Man Fong diundang berpartisipasi dalam pameran lukisan oleh pemimpin asosiasi Hindia Belanda Timur.

Setelah tahun 1940-an, Man Fong mencurahkan segenap waktunya untuk melukis di Bali dan mempersiapkan pameran tunggalnya di Jakarta dan Bandung. Pameran tunggalnya yang di Jakarta dilaksanakan pada Mei 1941. Ketika penjajahan Jepang di Indonesia (1942), Man Fong pernah dipenjara selama 6 bulan karena ikut serta melawan fasisme Jepang.

Untunglah dia ditolong oleh Takahashi Masao, seorang opsir yang juga seniman ikebana (rangkaian bunga) yang mengetahui kalau Man Fong adalah seorang seniman juga. Karena tertarik dengan potensi yang dimiliki Man Fong, maka Takahashi pun membebaskannya.

Pada tahun 1949, Man Fong di beri beasiswa oleh pemerintah Belanda untuk belajar melukis di Holland selama tiga tahun. Selama tinggal di Belanda, dia sempat mengadakan beberapa pameran tunggal. Dari pameran-pameran tersebut Man Fong mendapatkan kesuksesan.

Tahun 1952, semangat melukis Man Fong terpacu saat Presiden Soekarno sebagai pecinta seni lukis datang ketempat Lee Man Fong di Jalan Gedong. Dan tahun 1955, dia mendirikan sebuah perkumpulan Yin Hua, organisasi pelukis tionghoa, yang berada di Lokasari, Jakarta Kota.

Presiden Soekarno sering menghadiri pameran yang digelar oleh organisai tersebut, bahkan saat lukisan Yin Hua berada di Tiongkok, Lee Man Fong bertindak sebagai ketua delegasi. Dan itu sangat membuat Soekarno salut dan bangga.

Lukisan Lee Man Fong sangat disukai Soekarno karena dipandang seperti ventilasi ditengah sibuknya revolusi. Maka tahun 1961, Man Fong diangkat resmi menjadi pelukis istana dan warga Indonesia menggantikan pelukis sebelumnya, Dullah (1950-1960). Semenjak itu Man Fong bekerja untuk Presiden Soekarno dalam waktu empat tahun.

Pada masa turunnya Soekarno dan keadaan politik di Indonesia sangat kacau, Lee Man Fong akhirnya terpaksa harus pergi ke Singapore. Dia dianggap tokoh besar Singapura dan pelukis Singapura. Tahun 1985, Lee Man Fong kembali ke Indonesia dan pada tahun 1988 dia meninggal di Puncak, Jawa Barat, karena sakit liver dan paru-paru.

Man Fong sudah banyak menciptakan karya seni lukis dengan berbagai judul. Di masa sekarang, lukisan Man Fong semakin bernilai tinggi. Pada 2010 silam, Balai Lelang Sotheby Hong Kong melelang karya Man Fong yang berjudulBali Life dengan rekor US$ 3,2 juta. Harga yang sangat tinggi dan menjadikannya sebagai pelukis dengan karya termahal di kawasan Asia Tenggara.

Pada April 2011, Sotheby kembali melelang sejumlah mahakarya seni Man Fong lainnya, antara lain Doves atau Burung Merpati. Karya ini dinilai merupakan karya terbaik Man Fong karena dia jarang melukis dengan media kanvas dan terbiasa melukis diatas media hardboard. Selain itu karya seni juga berbeda dengan kebiasaan Man Fong yang menampilkan warna Asia dalam lukisannya.

Man Fong adalah ikon sejarah seni rupa Indonesia. Dia bukan jenis pelukis yang berambisi menciptakan konsep-konsep artistik yang eksplosif, namun tetap dikenang karena karyanya mampu menggoyang konvensi visual yang sudah ada. Lukisan lain milik Man Fong antara lain Man with HorsesKeluarga KudaRojak SellerCowherd Playing a Flute on a BuffaloFood VendorTwin Horses, dan Rabbits(Bagus Zuhair)

1 Comments from Facebook.com
1# From User:Sofyan Time:09-02-2014 02:03:41
Message:kreeeen

Media

1 Comments from Facebook.com
1# From User:Sofyan Time:09-02-2014 02:03:41
Message:kreeeen

www.TV.CekRicek.co.id

ENTERTAINMENT NEWS ONLINE