Jakarta, C&R Digital - Kasus perceraian artis yang juga politisi kembali menjadi buah bibir. Kali ini, terjadi pada artis cantik Venna Melinda. Anggota DPR dari Partai Demokrat itu melayangkan gugatan cerai atas suaminya, Ivan Fadilla. Benarkah panggung politik memberi tekanan yang lebih berat pada keharmonisan rumah tangga?
Gugatan cerai yang dilayangkan Venna Melinda pada Ivan Fadilla Soedjoko layaknya menegaskan cerita lama, sekaligus menguak fenomena baru. Pandangan masyarakat bahwa kehidupan selebriti dekat dengan urusan kawin dan cerai, paling tidak akan makin melekat pada diri para pelaku panggung hiburan itu.
Di lain sisi, karier meroket seiring status sebagai politisi dan selebriti di kalangan wanita, ternyata memengaruhi biduk rumah tangga. Meski menganggap kawin dan cerai di kalangan selebriti hanya sebatas politisasi media massa, psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli M.Psi. membenarkan ada hubungan kuat antara dua hal ini. “Saya tidak tahu bagaimana tekanan di politik atau di panggung hiburan. Tapi, makin tinggi karier, makin tinggi pula tanggung jawab berikut tuntutan terhadap individu bersangkutan,” ujarnya, saat dihubungi, Senin (4/3) sore.
Saat ini, paling tidak ada 19 selebriti yang berhasil masuk parlemen, baik di tingkat pusat maupun propinsi. Dari 19 nama, di kalangan wanita ada sebelas, yaitu Ingrid Palupi Kansil, Venna Melinda, Angelina Sondakh (nonaktif karena terlibat kasus korupsi), Theresia Pardede (mengundurkan diri), Nurul Arifin, Tetty Kadi Bawono, Rieke Diah Pitaloka, Okky Asokawati, Rachel Maryam Sayidina, dan Gitalis Dwi Natarina alias Gita KDI. Nama Wanda Hamidah bisa dimasukkan terkait jabatannya sebagai anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014.
Dari sebelas nama tersebut, ada empat wanita berstatus janda, Angelina Sondakh (cerai meninggal), Theresia Pardede (gugat cerai), Okky Asokawati (cerai meninggal), dan Wanda Hamidah (gugat cerai). Di suatu masa, Rachel Maryam juga sempat menyandang status janda, sebelum dinikahi Edwin Aprihandono, pada Desember 2011. Dengan demikian, jika gugatan cerai Venna dikabulkan, ia akan menjadi janda parlemen keenam dari kalangan selebriti.
Melalui kuasa hukumnya, Venna mendaftarkan gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan pada 22 Februari 2013. Gugatan itu tercatat dengan nomor perkara 502/Pdt.G/2013/PAJS dengan jadwal sidang pertama akan dilakukan pada 18 Maret mendatang. “Ternyata, manusia itu tak selalu bisa seperti yang dia inginkan. Yang sudah terjadi semoga bisa menjadi pelajaran bagi hidup saya. Dan saya meyakini semua ini adalah suratan takdir bagi saya,” ujar anggota Komisi X DPR-RI yang membidangi seni, olahraga dan pendidikan tersebut.
Pecah di politik
Kabar keretakan rumah tangga Venna dan Ivan sebenarnya sempat menjadi kasak-kusuk beberapa bulan silam. Pernikahan yang tak bisa dibilang sebentar itu, seakan menjadi antibodi super untuk menangkal semua kabar dan anggapan miring yang beredar seputar kehidupan rumah tangga mereka. Apalagi, selama ini Ivan dan Venna sepi dari gosip maupun kabar tak sedap.
Sejarah cinta Venna dan Ivan terjadi ketika sama-sama menjadi Abang dan None Jakarta 1993. Selang setahun, Venna dinobatkan sebagai Putri Indonesia 1994. Keduanya kemudian menikah pada 7 Desember 1995. “Saya tidak memikirkan materi,” kata Venna kala itu.
Venna lantas berkarier di panggung hiburan Tanah Air. Ia membintangi sejumlah sinema elektronik mulai dari Bella Vista, Bulan Bukan Perawan, Opera Jakarta, Tersanjung 5, dan Maha Pengasih. Venna juga sempat merambah berbagai bisnis mulai dari senam, penerbitan buku, produser musik, sampai akhirnya menjadi politisi.
Unik, kiprah Venna di panggung politik ini bisa dibilang tak lepas dari keterlibatan Ivan. Dalam sebuah wawancara, Venna mengaku tawaran tersebut justru datang dari sang suami. “Saya waktu itu benci politik karena saya seniman. Tapi, Mas Ivan berusaha meyakinkan,” terang Venna, yang akhirnya terpilih sebagai anggota legislatif dari wilayah Jatim 6 yang meliputi Blitar, Tulungagung, dan Kediri.
Venna dilantik menjadi anggota DPR RI pada Oktober 2009. Ivan dan keluarga besar Venna tentu bahagia. “Saya juga kaget. Dari awal kami fun, bersama Mama dan Mas Ivan, kami bentuk tim kecil yang mendukung jalan saya. Kami banyak diberi kemudahan,” katanya.
Venna kini membuat kaget banyak orang dengan keputusannya menggugat cerai Ivan. Kebersamaan rupanya tak cukup kuat mengeratkan tali cinta yang mereka jalin selama hampir 20 tahun. “Keinginan berpisah itu datang dari Venna, sejak mereka pulang haji 2012,” kata Muhammad Milano, pengacara Ivan.
Kepada C&R, Venna memang tidak membantah hal ini. “Setelah pulang haji keadaan bukan bertambah baik. Malah semakin tidak kondusif. Padahal, saya ini orang yang mencintai keluarga lebih dari apa pun. Ke setiap acara, saya selalu mengajak suami atau anak,” terangnya.
Benarkah panggung politik membuat Venna berpaling? Wanita kelahiran Surabaya 20 Juli 1972 tersebut menolak berkomentar. Hanya saja, Venna menampik kabar adanya kekerasan dalam rumah tangga maupun orang ketiga dalam keputusannya. “Dari mana isu itu muncul? Sama sekali tidak benar,” tegasnya.
Meski demikian, Venna meyakini gugatan tersebut sudah melalui pemikiran matang. Jika saja gugatan ini dikabulkan, Venna akan semakin mewarnai panggung hiburan sekaligus politik di Tanah Air. “Pernikahan itu memang enggak ada teorinya. Enggak ada orang bisa berteori tentang mana yang benar dan mana yang salah,” ucapnya.
--o-0 Boks 0-o--
Roslina Verauli M.Psi (Psikolog Keluarga dan Anak) : Kompromi Hanya Half Way
Perceraian di kalangan public figure seperti artis maupun politikus sebenarnya tidak bisa dibilang sering atau kerap atau banyak terjadi. Yang lebih tepat menurut saya adalah, kasus mereka selalu terekspos, padahal di luar juga banyak.
Lantas, apakah menjadi politisi merupakan beban lebih pada mereka? Saya tidak tahu karena tidak melakukan penelitian sendiri. Hanya saja, saya meyakini bahwa semakin tinggi karier seseorang maka makin tinggi pula tanggung jawab yang berdampak pada tuntutan terhadap individu bersangkutan. Hal ini merupakan satu dari beberapa sebab terjadinya peningkatan perceraian menurut penelitian Association for Asian Research (AFAR).
AFAR mengungkapkan, di tiap negara dalam satu dekade ini memang terjadi peningkatan perceraian dengan wanita sebagai pencetus (penggugat, Red). Hal ini konon disebabkan empat faktor. Pertama lebih banyak perempuan yang merasa lebih mantap dengan kariernya dan memilih kehidupan pribadi daripada terbelenggu dalam pernikahan yang tidak harmonis.
Faktor kedua, adanya tekanan antara karier dan rumah tangga. Ada banyak perempuan yang tidak mampu menengahi tekanan ini sehingga memilih berkarier. Ketiga terkait penerimaan secara sosial bahwa penerimaan masyarakat terhadap hal seperti ini semakin lebar dan longgar. Dan keempat, berkurangnya pengaruh keluarga besar dalam keluarga inti.
Ketika ada kasus double earner atau suami dan istri sama-sama mencari nafkah seperti ini, seharusnya ada kerja sama yang apik dan cantik pula. Bentuknya bisa berupa komunikasi yang baik terkait perubahan peran domestik wanita dan dukungan atau pengertian dari setiap anggota keluarga itu sendiri termasuk si wanita, serta adanya kompromi.
Hanya saja, kompromi seringkali bukan the best way untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, melainkan half way. Cara terbaiknya adalah yang saya sebut our way. Ada win-win solution antara kamu dan saya. Inilah yang sangat sukar dan tidak semua pasangan bisa melakukannya.(Ashar)
*Tabloid C&R Edisi 758
