Pesona Sagano, Hutan Bambu di Kyoto

Fokus
Typography

 

Catatan Ilham Bintang

C&R Digital - Pomeo klasik mengatakan tak sah berkunjung ke Jepang tanpa mampir --biarpun hanya satu malam -- di Kyoto, kota yang pernah berkali-kali jadi ibu kota Jepang. Rombongan Panasonic Gobel Amazing Trip Jepang 2017 yang terdiri sekitar 50 anggota, 24 Februari s/d 4 Maret lalu, tak melewatkan kesempatan itu. Obyek wisata yang dipilih pun istimewa. Sagano, hutan bambu, yang selalu menjadi incaran turis di Kyoto.

Beberapa jam di sana, pesona Sagano terasa luar biasa. Naik becak yang ditarik oleh tenaga manusia menjadi pengalaman mengesankan. Bukan sembarang tukang becak. Maksudnya bukan tukang becak biasa. Kabarnya, kebanyakan mereka adalah atlet, ada juga kalangan militer yang berbadan kekar, dan wajahnya ganteng-ganteng. Tak heran jika artis Okki Lukman dan pembawa acara Feny Rose sempat "histeris" mendapati kenyataan itu. Menurut informasi, tukang becak itu sempat mereka "siksa" disuruh menempuh jalan berputar, dan mengambil sejumlah foto yang sulit di hutan bambu agar bisa berlama-lama dengan si tukang becak. "Bisa dibawa ke Jakarta nggak tukang becaknya, Pak?,” tanya Okki kepada Rachmat Gobel pemimpin Trip PGA. Tak begitu jelas Okki mengucapkan itu sekadar bergurau atau bersungguh-sungguh. Yang pasti, Rachmat Gobel cuma tertawa menanggapinya.

Sagano berada di Kyoto, prefektur Jepang yang populer di antara wisatawan mancanegara. Kyoto dikenal menjadi pusat kebudayaan dan seni Jepang. Wisatawan dengan mudah akan menemukan kuil-kuil bersejarah, rumah-rumah tradisional, dan event tradisional di Kyoto.

Kehidupan dan keindahan masa lalu yang dipertahankan ternyata mampu menjadi aset wisata yang menjanjikan. Bahkan, kedai-kedai teh di Gion masih ramai pengunjung hingga kini. Magnet utama adanya Maiko atau Geisha di Gion. Setiap sore, wisatawan dapat melihat Maiko yang tengah berangkat bekerja. Pemandangan seperti ini tentu menarik rasa penasaran para wisatawan.

Kyoto juga menjadi tempat favorit untuk menghabiskan musim gugur di Jepang. Saat koyo atau daun-daun tengah berubah warna, Kyoto Tampak makin cantik. Kuil-kuil dan bangunan bersejarah yang dihiasi daun-daun momiji berwarna-warni menjadi pemandangan yang biasa terlihat.

 

Naik Becak Dua Kloter

Sagano atau Bamboo Grove di Arashiyama merupakan sebuah ‘taman’ dengan jalan setapak yang dirawat negara. Objek wisata yang dilindungi ini terletak di sebelah barat kota Kyoto. Arashiyama juga dikenal dengan adanya bamboo forest atau hutan bambu yang elok. Saat libur tiba, jalanan di sepanjang hutan bambu ini berubah menjadi lautan manusia. Seperti yang terjadi sewaktu rombongan Trip PGA tiba di sana. Sejauh mata memandang, semua pelosoknya dipenuhi orang, turis yang ingin menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Ditambah pula, saat itu cuaca cukup dingin, berkisar 10 derajat celcius. Becak pun kehabisan stok. Delegasi PGA terpaksa naik becak itu dua kloter, tiap kloter masing-masing 15 pasang.

Mengenakan pakaian tradisional Jepang, kimono, pasangan suami istri yang naik becak persis seperti pasutri baru menikah diarak keliling hutan bambu. Karni Ilyas dan istri, juga artis Darius Sinatrya dan Donna Agnesia, Indra Bekti dan istri, juga Irfan dan istri tampak enjoy menikmati trip ke hutan bambu tersebut. Sepanjang jalan wajah mereka berseri-seri. Mereka juga takjub pada kekuatan penarik becak yang berada di posisi depan menarik penumpang melalui jalan berkelok, kadang menanjak dan juga menurun. Kaki- kaki mereka yang kokoh kuat menahan beban penumpang.

Bukan cuma itu. Penarik becak juga ternyata ahli foto. Dia tahu spot-spot indah yang layak diabadikan. Mereka yang memotret, dan hasilnya luar biasa indah. Yang mencengangkan, ketika diberi tip di akhir perjalanan, mereka kompak menolak, sambil minta maaf.

“Mereka tidak mengenal budaya itu. Kalau dikasih tip mereka bisa tersinggung, merasa itu pelecehan terhadap profesinya, pelecehan terhadap pilihan pekerjaannya mencari nafkah," cerita guide kami. Wiih, nilai ini cocok untuk ditanamkan di Indonesia yang sudah lama chaos karena urusan tip dan suap.

 

Thomas Alfa Edison

Hutan bambu seluas 16 kilometer persegi. Memang merupakan tempat yang paling indah di Jepang, bukan hanya karena keindahan alamnya, melainkan juga irama suara angin yang timbul dari gesekan antara rumpun bambu yang satu dengan yang lain. Ibarat musik alam yang dihasilkan dari suara bambu.

Suara angin di hutan bambu ini merupakan salah satu suara yang terpilih dari seratus suara yang ada di Jepang yang harus dijaga dan dipelihara oleh Pemerintah Jepang.

Alkisah, pada tahun 1870-an, saat Thomas Alfa Edison sedang mencari bambu yang baik sebagai bahan dari filamen untuk awal pembuatan bola lampu, Gubernur Kyoto saat itu merekomendasikan kepadanya dua sumber tempat bambu terbaik, dan Sagano menjadi salah satu tempat yang direkomendasikannya. Sayangnya, Edison justru mengambil bambu dari tempat satunya yang juga direkomendasikan. Ini berarti bambu di hutan Sagano ini adalah jenis bambu yang berkualitas terbaik.

Di sela-sela trip itu, Rachmat Gobel menunjukkan bagaimana bambu digunakan rakyat Jepang untuk segala fungsi, termasuk menjadi tempat kue. "Tidak ada yang terbuang, semua dimanfaatkan," sambung mantan Menteri Perdagangan itu sambil menunjuk satu per satu contoh bambu yang dimanfaatkan untuk macam-macam keperluan.

Di sela hutan bambu itu ada kuil yang cukup ramai didatangi untuk berdoa, yaitu kuil Tenryu-ji. Pada bagian depan kuil berderet - deret toko yang menjual aneka suvenir khas Jepang dengan harga mulai dari ¥100  (Rp12 ribu).

Di kuil tersebut ada taman yang dibangun pada 1339 dan bergaya sangat Zen. Terdapat hamparan pasir putih yang ditata bersih dan sempurna. Taman yang dibangun disainer taman ternama Soseki Muso ini tetap mempertahankan bentuk aslinya selama beraba-abad. Pusat perhatian taman ini ada pada kolam yang dikelilingi bebatuan, pohon-pohon pinus yang termanikur dengan sangat baik.

Tiket masuk seharga ¥500 untuk menikmati keindahan taman yang dibuka pukul 08.30-17.30 itu, sedangkan untuk menikmati keindahan hutan bambu, pelancong tak perlu mengeluarkan uang.

Namun, untuk jalan-jalan bersama abang becak ala Jepang ini  antara ¥5 ribu (sekitar Rp600 ribu) hingga ¥7 ribu tergantung jarak tempuh. Jika ingin berhemat, Anda bisa berjalan kaki saja untuk menembus Hutan Bambu. 

 

BACA JUGA : 

Jennifer Garner Dukung Donald Trump

Emma Watson Tak Mau Selfie Demi Privasi

Ariana Grande, Asmara Setelah Empat Tahun