Jailangkung Teror di Lebaran 2017

Film
Typography

 

C&R Digital - Setelah 16 tahun berlalu, duet sutradara ternama Jose Poernomo dan Rizal Mantovani, kembali muncul di 2017 ini. Kedua sutradara kawakan ini kembali berduet menyutradarai film horor terbaru Jailangkung.

Namun, kata Jose, film ini tidak ada kaitan dengan Jelangkung produksi tahun 2001 maupun Tusuk Jelangkung (2003) dan Jelangkung 3 (2007).

“Semuanya baru, enggak ada kaitan atau sekuel dengan 16 tahun lalu. Mulai dari latar cerita, sisi cerita, maupun kemasan pemain, semua beda,” ucap Jose, saat jumpa pers di XXI Lounge, Plasa Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (30/5).

Jose memastikan, Jailangkung, produksi Screenplay Films, dan kerjasama dengan Legacy Pictures ini menyuguhkan materi horor terbaru. Sejak awal, Jose dan Rizal, memang sepakat tak ingin melanjutkan franchise karya sukses garapan mereka terdahulu.

Ia menyebut, dengan membawa ikon baru, Jose, yakin, film ini akan meledak setelah tayang pada 25 Juni mendatang. Sebabnya, di film ini, mantra yang ‘disajikan’ berbeda dengan mantra dalam film sebelumnya.

Misalnya, mantra yang dibawkaan memiliki banyak makan. Seperti, ‘datang tak dijemput, pulang tak diantar’, berubah menjadi ‘datang gendong, pulang bopong’.

Jose dan Rizal, merasa, punya banyak ide cerita yang bisa digali. “Pendekatan kami sangat beda. Dulu, anak muda pergi ke tempat seram. Kalau mau dibikin kedua, tiga, keempat, pasti ceritanya tentang anak muda pergi ke tempat seram. Kalau enggak, harus berubah sekuel. Makanya, ini bukan sekuel,” jelasnya.

Jailangkung, bercerita tentang perjalanan tiga gadis dalam menguak misteri yang terjadi pada ayah mereka (Lukman Sardi), yang ditemukan koma secara misterius. Lalu, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hanna Al-Rashid), dan Tasya (Gabrielle Quinlyn), berusaha menemukan jawaban itu.

Mereka dibantu oleh Rama (Jefry Nichol), teman kampus Bella, peminat hal metafisika, serta seorang pilot (Augie Fantinus) yang mengantar ke tempat pertama ayah mereka ditemukan. Mereka, lalu menemukan rumah besar di tengah hutan beserta jailangkung, boneka pemanggil arwah yang membuka rahasia gelap di masa lalu dan kini membahayakan nyawa mereka.

Film ini menghabiskan tiga kali budget dari film horor lainnya yaitu sebesar Rp 10 miliar. Menurut Wicky V. Olindo, selaku produser eksekutif, angka tersebut berasal dari kebutuhan soal lokasi dan pengerjaan efek spesial.

“Syuting di banyak tempat, Jakarta, Sukabumi, Purwokerto, Bali, Cimahi, Pulau Satonda, dan Pulau Menjangan. Produksi juga memakai pesawat jenis sea-plane sebagai elemen khusus. Belum lagi produksi, banyaknya spesial effect. Bukan cuma visual effect, tapi practical effect,” ucap Wicky.

 

BACA JUGA : 

BCL, Honor Anak Lebih Mahal

Lesti, Kenalkan Single Religi Ramadan 2017

Bisnis Baru Dodhy Eks ‘Kangen Band’