Kejutan Mbah Ponco di Film Ziarah

Film
Typography

 

C&R Digital - Nama Ponco Sutiyem mendadak populer di masyarakat. Perempuan 85 tahun yang akrab disapa Mbah Ponco itu ternyata sukses menyajikan akting memikat sebagai pemeran utama film Ziarah. Penilaian kualitatif itu setidaknya terekam dari keberhasilan namanya masuk dalam nominasi Aktris Terbaik ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017.

Film karya sutradara BW Purba Negara yang dibintangi Mbah Ponco, Rukman Rosadi, dan Ledjar Subroto ini mulai tayang Kamis (18/5). Selain masuk nominasi Aktris Terbaik ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, film Ziarah juga terpilih sebagai Film Terbaik Pilihan Juri – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Skenario Terbaik – ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Film Terbaik – Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina, dan Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016.

Gala Premiere film Ziarah dilaksanakan di puncak Gunung Gambar, Gunung Kidul, Yogyakarta, Sabtu (13/5). Pemutaran dilakukan terbatas dengan menggunakan layar tancap. Sedangkan untuk umum, film Ziarah mulai diputar bioskop-biskop seluruh Indonesia mulai Kamis (18/5).

Tanpa Artis Ibu Kota

Banyak hal yang memang menarik dari film Ziarah. Mengutip siaran pers yang diterima redaksi, BW Purba mengatakan, ia memang menghindari bentuk-bentuk akting yang stereotype seperti melibatkan artis-artis terkenal ibu kota. Ia ingin Ziarah menjadi ruang ekspresi bagi orang-orang yang tidak pernah mempunyai tempat di media mainstream.

“Ketika memilih aktor untuk film Ziarah, pertimbangan yang utama adalah pada otentisitas. Yang diutamakan bukanlah pengalaman akting, tetapi pengalaman hidup. Agar lebih otentik, film ini perlu diperankan oleh orang-orang yang benar-benar mengalami masa perang. Salah satunya Mbah Sri, tokoh sentral dalam film ini,” kata Purba Negara.

Keputusan tersebut ternyata membuahkan hasil. Film Ziarah masuk Nominasi Penulis Skenario Festival Film Indonesia 2016, Nominasi Aktris Terbaik ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Nominasi Sutradara Terbaik ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Nominasi Film Terbaik ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Nominasi Film Terbaik Apresiasi Film Indonesia 2016, dan Kompetisi Film – Jogja Netpac Asian Film Festival 2016.

Peralatan Sederhana

Menurut BW Purba, pengalamannya menjadi relawan bencana tsunami di Aceh-lah yang menuntunnya memproduksi film Ziarah. Di sana ia bertemu dengan banyak orang yang mampu berdamai dengan tragedi Aceh dan para orang tua yang bercerita tentang masa lalu dengan lancarnya. Hal itu memberinya inspirasi untuk menulis naskah film ini selama dua tahun.

Film Ziarah dibuat dengan peralatan kamera ala kadarnya, seperti handycam, kamera DSLR, dan kamera handphone. Risdiyanto, cucu Mbah Ponco sama sekali tak menduga Ziarah akan menjadi populer seperti sekarang. Bahkan, Neneknya pun ikut menjadi terkenal dan meraih penghargaan.
Dengan budget produksi terbatas, digarap Ziarah secara bergerilya dan independen bersama Goodworks, Hide Project Films, Limaenam Films, dan Super 8mm Studio.

Sutradara Purba Negara bahkan sengaja memberikan sejumlah peran dalam film Ziarah kepada penduduk lokal. Salah satunya, ya itu tadi, Ponco Sutiyem, warga lokal yang bekerja sebagai petani di Gunung Kidul, Yogyakarta. Beberapa warga lokal pun ikut terlibat menjadi pemain pendukung dalam filmnya.

 

BACA JUGA : 

Aliando Syarief, Unjuk Gigi Lewat Single “Buktikan Hari Ini”

Kala Thor Berambut Cepak

Thor Menggusur Beauty and the Beast