Jakarta, C&R Digital - Kehadiran XXI Short Film Festival disambut baik oleh para sineas Indonesia. Selama ini, hambatan dari para sineas film pendek Indonesia adalah pendistribusian karya.
“Film Indonesia problemnya adalah distribusinya. Jadi ya ini perlu dipikirkan agar short film menghiasi bioskop Indonesia,” ujar Abdu Aziz selaku Juri Film Pendek Dokumenter XXI Short Film Festival saat ditemui di Djakarta Teatre, Senin (04/03).
Hal serupa juga diungkapkan oleh Hanung Bramantyo selaku Juri Film Pendek Fiksi Naratif. Baginya, ini adalah momentum bagi para sineas muda untuk unjuk gigi. “Seneng karena satu kanal baru, teman-teman semua film maker. Enggak sebut pemula, ya kanal baru film maker, short film. Sekarang short film dianggap independen, bukan mainstream, komersil. Padahal tidak, film pendek sama seperti film panjang. Tontonan yang bisa buat tertawa, senang, jatuh cinta,” tutur sutradara film Gending Sriwijaya itu.
Suami pesinetron Zaskia Adya Mecca ini menilai kurangnya pengetahuan masyarakat membuat para pelaku film pendek lebih memilih mengirimkan karyanya untuk mengikuti festival-festival internasional ketimbang di dalam negri. “Sebagai juri, saya hanya bisa memberikan masukan-masukan untuk Cinema 21. Begitu penting film pendek buat masyarakat, dengan adanya film pendek kita bisa melihat potensi sutradara baru, buat modal film panjang,” ujarnya. “Tapi sutradara film pendek pilihan profesi, mereka buat film kadang-kadang kirim ke luar negri untuk festival, banyak yang menang penghargaaan di luar negri, seperti sutradara Ifa Isfansyah."
Ajang yang diadakan oleh Cinema 21 ini telah menjaring 730 film pendek dan telah sampai pada tahap penjurian. Para dewan juri yang akan menilai di antaranya, Hanung Bramantyo, Ifa Isfansyah dan Lola Amaria untuk film pendek fiksi naratif. Candra Endroputro, Hikmat Darmawan dan Wahyu Aditya dipercaya sebagai juri film pendek animasi. Sementara Abduh Aziz, Lulu Ratna dan Vivian Idris untuk film pendek dokumenter.
