Jakarta, C&R Digital - Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama pada Rabu (16/1) memerintahkan sejumlah lembaga ilmiah untuk melakukan penelitian keterkaitan media, video game dan kekerasan. Perintah ini diberikan menyusul terjadinya aksi kekerasan yang sering terjadi di negara adi kuasa itu, belakangan ini. Salah satunya, peristiwa penembakan 28 orang meninggal dunia di sekolah dasar Sandy Hook, negara bagian Connecticut pada Desember 2012.
Associated Press menebutkan bahwa Gedung Putih menyerukan penelitian ini menyusul menyusul proposal Undang-Undang pembatasan perdagangan senjata api di negeri Paman Sam itu ke Kongres. Sementara konsres sendiri tampaknya enggan meluluskan pengajuan tersebut, karena berpendirian tak adanya keterkaitan antara 'hiburan berdarah' dengan tindak kekerasan yang terjadi.
Obama sendiri menggaris bawahi, penelitian tersebut difokuskan pada efek tayangan dan game serta kekerasan senjata api. Langkah ini adalah salah satu dari 23 langkah yang tengah diambil pemerintah untuk mengumpulkan sejumlah bukti yang akan berimplikasi pada kebijakan pemerintah.
Sementara, salah satu lembaga penelitian yang mendapat tugas ini adalah Centers for Disease Control and Prevention. Pemerintah menyediakan US$ 10 juta untuk riset tersebut. Besarnya biaya tersebut karena Gedung Putih sendiri memandang penting terkait hasil peleitian tersebut dalam 'kesehatan publik.'
Sejumlah asosiasi dan komunitas film dan media massa di Amerika Serikat menyambut baik ajakan Obama dan Gedung Putih untuk memecahkan masalah tersebut. Sejumlah asosiasi yang menyatakan setuju dan mendukung gerakan ini seperti The Motion Picture Association of America, the National Association of Broadcasters, National Cable & Telecommunications Association dan The Independent Film & Television Alliance.
“Kami mendukung tujuan presiden untuk mengurangi kekerasa senjata api di negeri ini. Kami semua siap menjadi bagian dari pemecahan masalah ini. Ini masalah kompleks dan kami mendukung semua upaya penelitian dan akademis untuk memecahkan masalah ini.” ungkap salah satu perwakilan mereka.
Sementara sejumlah sutradara, pelaku dan pembuat film seperti QuentinTarantino yang 'gemar' membuat film laga penuh kekerasan, menolak menjawab semua pertanyaan dan pernyataan sikap pribadi mereka. Tapi sebagian besar dari mereka masuk dalam komunitas ataupun asosiasi yang mendukung gerakan pemerintah tersebut.
